Langsung ke konten utama

LANDASAN TEORITIS MULTIMEDIA PEMBELAJARAN



Perkembangan Multimedia Dalam Pendidikan

Pada dekade 1960 komputer telah menghasilkan teks, suara, dan grafik walaupun masih sangat sederhana sehingga bisa digunakan dalam media pendidikan. Donald Bitzer sebagai Bapak PLATO (Programmed Logic for Automated Teaching Operations) mengembangkan pembelajaran berbasis komputer (CAI: Computer Assisted Instruction) pada tahun 1966 di University of Illinois at Urbana-Champaign. Uji coba pembelajaran berbasis komputer pertama dilakukan pada tahun 1976 di sekolah Waterford Elementary School. Sejak saat itu, pembelajaran berbasis komputer mulai dipublikasikan dan digunakan di sekolahsekolah umum sebagai media pembelajaran berbasis komputer.

Lahirnya multimedia yang digunakan dalam pendidikan adalah salah bagian perkembangan dari pembelajaran berbasis komputer tersebut. Pada dekade tahun 1990 komputer berbasis multimedia interaktif mulai berkembang, para pendidik mulai mempertimbangkan implikasi apa yang mungkin timbul dari media baru ini jika diterapkan dalam lingkungan belajar mengajar. Dalam jangka waktu yang relatif singkat, munculnya multimedia dan teknologi komunikasi yang terkait telah menerobos hampir ke setiap aspek dalam kehidupan masyarakat. Mishra dan Sharma (2005) mengatakan bahwa multimedia interaktif yang awalnya dipandang sebagai pilihan teknologi dalam konteks pendidikan untuk alasan sosial, ekonomi, dan pedagogis telah menjadi suatu kebutuhan dalam pendidikan. Banyak lembaga pendidikan menginvestasikan waktu, usaha dan uang mereka ke dalam penggunaan teknologi.

Multimedia telah tumbuh dan berkembang dengan sangat pesat seiring dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi yang berbasis pada komputer. Pergeseran paradigma pendidikan karena masuknya pandangan konstruktivisme telah mengubah era mengajar menjadi era belajar (Reigeluth, 1999). Pada era belajar, penekanan pembelajaran adalah bagaimana pebelajar bisa belajar dengan optimal sesuai dengan caranya sendiri, sehingga penciptaan lingkungan belajar yang adaptif dan self regulated menjadi wacana pembelajaran sekarang ini. Multimedia dan multimedia interaktif/hypermedia telah banyak dikembangkan untuk self regulated learning ataupun untuk media dalam pembelajaran face to face (computer assisted learning). Multimedia dan hypermedia mempunyai prospek yang tinggi dan powerfull digunakan untuk pembelajaran dan pelatihan (Passerini, 2007), Sayangnya, banyak multimedia yang dibuat dan disampaikan (delivery) lewat e-learning ataupun on-line learning belum mencermati aspek kualitas secara konsisten (Leacock & Nesbit, 2007), belum banyak mencermati proses kognisi manusia (Clark & Mayer, 2003), dan belum mengadopsi hasil riset psikologi pendidikan (Nesbit, Li & Leacock, 2006; Shavinina & Loarer, 1999).

Secara sosial, literasi komputer merupakan keterampilan penting agar dapat berpartisipasi secara penuh dalam masyarakat. Penggunaan teknologi multimedia di lembaga pendidikan dipandang perlu agar pendidikan tetap relevan dengan abad ke-21 (Selwyn & Gordard, 2003). Untuk bisa efektif menggunakan komputer dalam pendidikan, seorang pendidik maupun peserta didik perlu memiliki literasi komputer.

Menurut Munir (2009) diantara literasi yang harus dimiliki adalah kesadaran dan kemampuan menggunakan perangkat lunak, kemampuan menggunakan internet, e-mail, mengenal secara umum perangkat keras, mempunyai keyakinan dalam penggunaan komputer dan mempunyai kemampuan mempelajari komputer sendiri.

Landasan ekonomis penggunaan multimedia menurut Bennet, Priest, & Macpherson (Mishra dan Sharma, 2005) adalah penggunaan multimedia baru dalam skala besar dan teknologi komunikasi yang terkait untuk pengajaran dan pembelajaran dapat menawarkan harga yang lebih murah dibandingkan pengajaran dengan cara tradisional (tatap muka) dan jarak jauh. Hal ini juga akan membantu membangun dan mempertahankan keunggulan kompetitif bagi lembaga di era globalisasi pendidikan. 

Sepintas landasan pedagogis sangat erat kaitannya dengan landasan ekonomi sebab penggunaan multimedia dalam pendidikan menjadi kekuatan pendorong terbesar yang ditunjang dengan penanaman modal secara besar-besaran yang dilakukan oleh lembaga-lembaga pendidikan. Integrasi multimedia ke dalam kurikulum akan menyebabkan terjadinya transformasi pedagogis dari pendekatan pembelajaran tradisional yang berpusat pada pendidik menuju pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. 

Dari perspektif peserta didik, peranan pendidik beralih dari yang semula berperan sebagai instruktur tradisional (pendekatan instructivist) dan pemasok pengetahuan menjadi peran yang lebih erat terkait dengan dukungan dan fasilitas dari konstruksi pengetahuan secara aktif oleh peserta didik. Pendekatan yang berpusat pada peserta didik menyiratkan pemberdayaan bagi peserta didik individu dan kecakapan pengarahan diri bagi peserta didik, sehingga lebih bermakna, pengalaman belajar otentik yang mengarah pada pembelajaran seumur hidup. Implikasi ini terdapat pada inti penjelasan mengenai pedagogis berbasis konstruktivis untuk integrasi multimedia dalam konteks pendidikan (Selwyn & Gorard, 2003; Gonzales dkk, 2002).

Walaupun mungkin diakui pendidik bahwa multimedia memiliki potensi untuk menawarkan kesempatan belajar yang baru dan disempurnakan, banyak pendidik yang gagal menyadari potensi ini. Sejumlah pendidik yang menggunakan program multimedia di lingkungan pembelajaran mereka, sebagian besar hanya menggunakannya sebatas untuk alat akses data, komunikasi, dan administrasi.  Munir (2011) mengatakan bahwa multimedia dalam pendidikan memiliki tiga fungsi utama yaitu fungsi suplemen yang sifatnya pilihan, fungsi pelengkap dan fungsi pengganti. Sejauh ini multimedia masih dianggap sebagai fungsi pilihan dan pelengkap dibanding dengan fungsi pengganti. Selama ini multimedia masih dianggap sebagai salah satu dari fungsi tersebut, belum dianggap sebagai satu kesatuan yang membuat satu kurikulum yang terintegrasi. Karena kurangnya integrasi ini maka hasilnya akan menghasilkan perubahan yang minimal.

Kegagalan kurangnya efektivitas penerapan multimedia dalam pendidikan, selain dari tidak terintegrasinya multimedia ke dalam kurikulum, juga dilatarbelakangi suatu kenyataan bahwa kebanyakan pendidik tidak siap untuk perubahan yang dituntut dan dihasilkan oleh hadirnya multimedia. Meskipun beberapa pendidik yang berpengalaman memiliki kemampuan, keterampilan, pengetahuan baik teknis maupun pedagogis sehingga mengetahui apa dan bagaimana mentransformasi proses pembelajaran dari menggunakan media tradisional ke penggunaan multimedia.

Permasalahan:
1. Mengapa masih banyak terjadi kegagalam dalam mencapai tujuan belajar, padahal pendidik sudah menggunakan multimedia! faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya?
2. Integrasi multimedia ke dalam kurikulum akan menyebabkan terjadinya transformasi pedagogis dari pendekatan pembelajaran tradisional yang berpusat pada pendidik menuju pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. bagaimana cara mewujudkannya? 
3. Tujuan pembelajaran dilandaskan berdasarkan kurikulum yang berlaku di negri ini. seberapa besar peranan multimedia dalam memenuhi tuntutan kurikulum yang ada?

Komentar

  1. Saya mau menanggapi permasalah anda yang ketiga.
    Media pembelajaran bergantung pada kurikulum dan sangat berperan yaitu apabila kurikulum berubah, otomatis media pembelajaran juga berubah. Tapi semua bergantung pada kebijakan setiap sekolah atau penyelenggara pendidikan. Misalnya, Ada sebuah sekolah yang menerapkan kurikulum lama. Karena adanya perubahan kurikulum yang mengharuskan siswa untuk belajar sendiri dan mandiri namun tetap mendapat bimbingan real time dari guru, maka sistem belajar menggunakan media pembelajaran di kelas secara face to face, diganti dengan yang sistem belajar lebih canggih.
    Dan akhirnya diterapkan sistem e-learning (pembelajaran elektronik) yang merupakan media pembelajaran baru yang dianggap unggul dari segi kecepatan, efisiensi waktu, biaya dan tenaga guru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat dengan santa, seberapa besar peran multimedia dibandingkan kurikulum. menurut saya kurikulum yang berlaku memang harus dilaksanakan oleh guru sebagai pedoman dalam mengajar sedangkan media sebagai alat bantu guru dalam mengajar yang boleh dipakai dan boleh tidak. intinya paling penting kurikulum dibandingkan media.

      Hapus
    2. Menanggapi tanggapan dari yulinda dan santha, terimakasih sebelumnya. Saya akan menambahkan manfaat multimedia dalam kurikilum adalah sebagau berikit.
      MAANFAAT MULTI MEDIA DALAM KURIKULUM PENDIDIKAN NEGARA.
      1.1 Multimedia digunakan sebagai salah satu unsur pembelajaran di kelas. Jika guru menjelaskan suatu materi melalui pengajaran di kelas atau berdasarkan suatu buku acuan, maka multimedia digunakan sebagai media pelengkap untuk menjelaskan materi yang diajarkan di depan kelas.
      1.2 Multimedia dengan jenis ini dinamakan juga dengan ‘presentasi pembelajaran’. Materi yang ditayangkan tidak terlalu kompleks dan hanya menampilkan beberapa item yang dianggap penting, baik berupa teks, gambar, video maupun animasi. Latihan dan tes kurang sesuai diletakkan pada presentasi pembelajaran ini, kecuali bersifat kuiz yang digunakan untuk membangun suasana kelas agar lebih dinamik.
      1.3 Multimedia mewujudkan suasana penglibatan aktif pelajar.
      1.4 Multimedia menjadi medium pengalak pembelajaran kolaboratif yang melibatkan pembelajaran secara berkelompok serta memurnikan interaktif antara pelajar dengan pelajar dan pelajar dengan guru.
      2.0 Multimedia digunakan sebagai materi pembelajaran mandiri.
      2.1 Multimedia mungkin saja dapat mendukung pembelajaran di kelas.Berbeda dengan tipe pertama, pada tipe kedua seluruh kebutuhan instruksional dari pengguna dipenuhi seluruhnya di dalam paket multimedia. Ini berertinya seluruh kemudahan multimedia adalah untuk pembelajaran.
      2.2 Fenrich (1997) menyimpulkan keunggulan multimedia pembelajaran antara lain:
      Siswa dapat belajar sesuai dengan kemampuan , kesiapan dan keinginan mereka. Ini membawa erti bahawa pengguna sendirilah yang mengawal proses pembelajaran.Murid mampu belajar dari tutor yang sabar (komputer) yang menyesuaikan diri dengan kemampuan dari seseorang murid. Murid akan terdorong untuk mengejar pengetahuan dan memperoleh feadaah serta merta. Murid juga menghadapi suatu evoluasi yang objektif melalui pengalaman dalam latihan multimedia yang disediakan. Murid juga akan menikmati suasana kerahsiaan di mana mereka tak perlu malu saat melakukan kesalahan. Murid juga mampu belajar di saat yang amat kritikal (“just-in-time” learning). n.
      2.3 Di samping itu, multimedia juga member maanfaat daalm pembelajaran dapat juga dengan memperbesar benda yang sangat kecil dan tidak tampak oleh mata, seperti kuman, bakteri,electron. Multimedia juga mampu memperkecil benda yang sangat besar, yang tidak mungkin dihadirkan ke sekolah, seperti gajah, rumah, gunung.
      2.4 Multimedia mampu menyajikan benda atau peristiwa yang kompleks, rumit dan berlangsung cepat atau lambat, seperti sistem tubuh manusia, bekerjanya suatu mesin, beredarnya planet, berkembangnya bunga.Multimedia juga mampu menyajikan benda atau peristiwa yang jauh, seperti bulan, bintang, salju.

      Hapus
  2. Saya akan mencoba menanggapi permasalahan yang pertama dimana faktor yang mempengaruhi kegagalan dalam tujuan belajar padahal sudah menggunakan multimedia ada faktor internal dan faktor eksternal, faktor internal berasal dari diri sendiri contohnya kurangnya tidur dapat menyebabkan kantuk ketika proses belajar sedang berlangsung sehingga tujuan belajar tidak dapat tercapai dengan baik, sedangkan faktor eksternal yaitu faktor dari luar, contohnya lingkungan keluarga, dimana lingkungan keluarga yang tidak harmonis dapat menyebabkan turunnya minat belajar siswa, sehingga menyebabkan tujuan belajar tidak berjalan dengan baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas tanggapannya. Salah satu faktor lain adalah konten yang disajikan terkadang terlalu banyak tidak langsung ke inti sehingga oeserta didik bosan, atau dari segi kondisi dan lingkungan yabg memang tidak cocok untuk digunakannya multimedia. Karena penggunaan multimedia harus disesuaikan dengan kebutuhan dan menjawab permasalahan peserta didik dalam belajar

      Hapus
  3. Baikalah saya akan menjawab permasalahan anda yang pertama dimana sering ditemukan hambatan-hambatan pengintegrasian multimedia dalam pembelajaran yang dapat disimpulkan dengan dua kelompok, yaitu :

    1. Secara Fisik
    Secaca fisik dapat berupa sarana dan prasarana yang belum memadai terutama untuk sekolah-sekolah yang berlokasi di pelosok. kalaupun sudah ada sarana dan prasarana, tetapi masih sangat minim baik dari segi jumlah maupun segi mutu peralatan tersebut.Masih digunakannya perangkat multimedia bekas di lembaga-lembaga pendidikan yang terdapat di daerah pedesaan. Perangkat multimedia bekas ini tentunya masih menggunakan spesifikasi yang sudah tertinggal jamannya. Sehingga penggunaannya tidak mampu bersaing dengan laju perkembangan multimedia yang begitu pesat.

    2. Secara Non-fisik

    1. Kepercayaan diri guru kurang dalam menggunakan multimedia dalam melaksanakan proses PBM. Guru takut gagal mengajar melalui penggunaan multimedia yang saat ini sangat disarankan. Walaupun penggunaannya ICT dalam proses pembelajarn sangat disarankan oleh para ahli.
    2. Kurangnya kompetensi guru, yang dimaksud disini adalah kurangnya kompetensi guru dalam mengintegrasikan TIK kedalam pedagogis praktek, yaitu tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan komputer dan tidak antusias tentang perubahan dan integrasi dengan belajar yang menggunakan computer dalam kelas mereka.
    3. Sikap guru dan resistensi yang melekat terhadap perubahan. Sikap dan resistensi guru untuk mengubah tentang penggunaan strategi baru yaitu dengan integrasi TIK dalam PBM. Hal ini dimaksudkan dengan sikap guru bahwa penggunaan TIK dalam PBM tidak memiliki mamfaat atau keuntungan yang jelas.

    Dalam Era Teknologi, Informasi, dan Komonikasi (TIK) atau Information, Comunications, and Technology (ICT), pada saat ini ICT di kelas sangat penting untuk memberikan kesempatan bagi keberhasilan belajar siswa pada era tahun informasi saat ini. Dengan menggunakan ICT maka hambatan dalam pembelajaran dapat teratasi.

    Temuan menunjukkan bahwa guru memiliki keinginan yang kuat untuk mengintegrasikan multimedia ke dalam pendidikan, tapi itu, mereka menemui banyak hambatan. Hambatan utama adalah :

    1. Kurangnya confidence,/ kepercayaan.
    2. Kurangnya kompetensi.
    3. Kurangnya akses ke sumber daya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. untuk mengatasi hal yang disampaikan desi Salah satu usaha yang dikembangkan untuk mengantisipasi sejumlah potensi masalah di atas maka akhir-akhir ini perhatian pendidik mulai diarahkan kepada belajar kooperatif dalam pembelajaran multimedia (Klien & Pridemore, 1992). Hooper (1992) memperluas pendekatan belajar kooperatif ini dalam lingkungan belajar yang berbasis komputer.
      Ia mengemukakan beberapa keuntungan dan penerapan belajar kooperatif dalam pembelajaran multimedia antara lain : 1) adanya ketergantungan dan tanggung jawab dari setiap anggota kelompok. 2) Adanya interaksi yang promotif di mana usaha seorang individu akan mendukung usaha anggota kelompok lainnya. 3) Kesempatan latihan untuk bekerjasama. 4) Pengembangan dan pemeliharaan kelompok. Proses kelompok yang terjadi di dalam lingkungan belajar ini bisa mendorong anggota kelompok untuk merefleksikan efektif atau tidaknya strategi yang digunakan.

      Hapus
    2. Terimakasih atas tanggapannya. Namun, permasalahan yg saya angkat sedikit tidak berkorelasi dengan pendapat saudari desi. Untuk lebih lanjut, sudah saya paparkan di atas bahwa kegagalan dalam pembelajaran padahal sudah menggunakan multimedia garis penting adalah konten, dan kebutuhan dan situasi belajar siswa itu seperti apa.

      Hapus
  4. saya ingin mencoba menanggapi permasalahan pertama saudari, menurut saya faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah faktor internal dan juga eksternal, faktor internal bisa berupa kurangnya motivasi dari dalam diri siswa , faktor eksternal bisa berupa materi yang guru sampaikankan tidak menarik bagi sia anak sehingga dia malas mendengarkan.

    BalasHapus
  5. saya akan menjawab permasalahan pertama
    Berikut faktor-faktor yang mempengaruhi Proses dan hasil Belajar Siswa:
    1. Faktor Lingkungan
    Faktor lingkungan, yang meliputi lingkungan alam dan lingkungan sosial, juga perlu mendapat perhatian. Belajar dalam kondisi alam yang segar selalu lebih efektif dari pada sebaliknya. Demikian pula, belajar pada pagi hari selalu memberikan hasil yang lebih baik dari pada sore hari. Sementara itu, lingkungan sosial yang hiruk pikuk, terlalu ramai, juga kurang kondisif bagi proses dan pencapaian hasil belajar yang optimal.

    2. Faktor Instrumental
    Faktor instrumental, baik yang tergolong perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Perangkat keras seperti perlangkapan belajar, alat praktikum, buku teks dan sebagainya sangat berperan sebagai sarana pencapaian tujuan belajar. Karenanya, pendidik harus memahami dan mampu mendayagunakan faktor-faktor instrumental ini seoptimal mungkin demi efektifitas pencapaian tujuan-tujuan belajar.

    Setiap sekolah mempunyai tujuan yang akan dicapai. Tujuan tentu saja pada tingkat kelembagaan, agar dapat mencapai ke arah itu diperlukan seperangkat kelengkapan dalam berbagai bentuk dan jenisnya. Sarana dan fasilitas yang tersedia harus dimanfaatkan sebaik-baik agar berdaya guna dan berhasil untuk kemajuan belajar anak didik di sekolah.

    3. Kondisi Fisik (Keadaan Jasmani)
    Faktor fisik yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar adalah kondisi individual subjek didik sendiri. Termasuk ke dalam faktor ini adalah kesegaran jasmani dan kesehatan. Subjek didik yang berada dalam kondisi jasmani yang kurang segar tidak akan memiliki kesiapan yang memadai untuk memulai tindakan belajar. Kondisi fisik pada umumnya sangat berpengaruh terhadap kemampuan belajar seseorang. Orang yang dalam keadaan segar jasmaninya, akan berlainan belajarnya dari orang yang dalam keadaan kelelahan.

    4. Kondisi psikologis (Keadaan Mental)
    Faktor-faktor psikologis yang berpengaruh terhadap proses dan hasil belajar jumlahnya banyak sekali, dan masing-masingnya tidak dapat dibahas secara terpisah. Perilaku individu, termasuk perilaku belajar, merupakan totalitas penghayatan dan aktivitas yang lahir sebagai hasil akhir saling pengaruh antara berbagai gejala, seperti perhatian, pengamatan, ingatan, pikiran dan motif.

    Semua keadaan dan fungsi psikologis tentu saja mempengaruhi belajar seseorang. Berarti belajar bukanlah berdiri sendiri, terlepas dari faktor lain seperti faktor luar dan faktor dari dalam. Faktor psikologis sebagai faktor dari dalam tentu saja merupakan hal yang utama dalam menentukan intensitas belajar seorang anak. Minat, kecerdasan, bakat, motivasi, dan kemampuan-kemampuan kognitif adalah faktor-faktor psikologis yang utama mempengaruhiproses dan hasil belajar peserta didik.

    BalasHapus
  6. saya akan menambahkan jawaban no. 1 dimana faktor faktor yang juga dapat mempengaruhi adalah:
    Faktor intern siswa
    Faktor intern siswa meliputi gangguan atau kekurangmampuan psiko-fisik siswa, yaitu:

    1) Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual/intelegensi siswa;

    2) Yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi dan sikap;

    3) Yang berdifat psikomotor (ranah karsa), antara lain seperti terganggunya alat-alat indra penglihatan dan pendengaran (mata dan telinga).

    2. Faktor ekstern siswa

    Faktor ekstern siswa meliputi semua kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa. Faktor lingkungan ini meliputi:

    1) Lingkungan keluarga, contohnya: ketidakharmonisan hubungan antara kedua orang tua, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.

    2) Lingkungan sekitar/masyarakat, contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan teman sepermainan (pear group) yang nakal.

    3) Lingkungan sekolah, contohnya kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi guru dan alat-alat pendukung sarana belajar yang berkualitas rendah.

    BalasHapus
  7. Baiklah saya akan menaggapi permasalahan yang pertama, menurut saya faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar adalah :
    1. faktor pendidik
    Latar belakang pendidikan dan pengalaman mengajar adalah dua aspek yang mempengaruhi kompetensi seseorang guru dibidang pendidikan dan pengajaran. Guru pemula dengan latar belakang pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya di sekolah, karena dia sudah dibekali dengan seperangkat teori sebagai pengabdiannya. Sedangkan guru yang tidak berlatar belakang keguruan akan banyak menemukan masalah dikelas, karena tidak memiliki bekal teori pendidikan dan keguruan. Berbagai permasalahan yang dikemukakan diatas adalah merupakan aspek yang ikut mempengaruhi keberhasilan belajar dan yang dihasilkan dapat bervariasi. Variasi itu dapat dilihat dari tingkat keberhasilan siswa menguasai bahan pelajaran yang diberikan oleh guru dalam setiap kali pertemuan.
    2. Faktor Peserta Didik.
    Anak didik adalah orang yang sengaja datang ke sekolah, orang tuanya yang memasukkannya untuk didik agar menjadi orang yang berilmu pengetahuan di kemudian hari. Tanggung jawab guru tidak hanya terhadap seorang anak, tetapi dalam jumlah yang cukup besar. Anak dalam jumlah yang cukup besar itu tentu saja dari latar belakang kehidupan sosial keluarga yang berlainan dan mempunyai karakter yang berbeda pula. Kepribadian mereka ada yang pendiam, periang, suka bicara, kreatif, manja. Intelektual mereka juga dengan tingkat kecerdasan yang bervariasi, keadaan biologi merekapun berbeda. Karena itu, perbedaan anak pada sekolah biologis, intelektual dan psikologis ini dapat mempengaruhi kegiatan belajar mengajar. Anak yang menyenangi pelajaran tertentu dan kurang menyenangi pelajaran yang lain adalah perilaku anak yang bermula dari sikap minat yang berlainan. Biasanya pelajaran yang disenangi akan dipelajari dengan senang hati. Sebaliknya, jika pelajaran yang kurang disenangi jarang dipelajari sehingga tidak heran bila isi dari pelajaran kurang dikuasai oleh siswa, akibatnya hasil ulangan siswa tidak baik. Sederetan angka yang terdapat dibuku raport siswa adalah buktinya dari keberhasilan proses belajar mengajar.

    3. Faktor Kegiatan Pengajaran.
    Keberhasilan pembelajaran ditunjukan oleh dikuasainya tujuan pembelajaran oleh siswa, salah satu faktor keberhasilan dalam pembelajaran adalah faktor kemampuan guru dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang efektif tidak dapat muncul dengan sendirinya, tetapi guru haarus dapat menciptakan pembelajaran yang memungkinkan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara optimal. Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara guru dengan anak didik dengan bahan pelajaran sebagai perantaranya.

    BalasHapus
  8. BIklah disini saya akan mencoba menjawab permasalahan pertama, ketidakcapaian tujuan pembelajaran dapat disebabkan dari siswa ataupun gurunya, jika ditinjau dari siswa maka bsa saja salah satu penyebab nya adalah ketidakmauan untuk mengetahui pelajaran yg disampsaikan

    BalasHapus

Posting Komentar