Pengembangan e-learning dalam pembelajaran kimia
Banyak definisi tentang pembelajaran yang menggunakan internet, seperti, online learning, distance learning, web-based learning, e-learning (Luik, 2010). Hal tersebut banyak membuat orang menjadi bingung dengan istilah-isitlah tersebut, akantetapi Tsai dan Machado (2010) memberikan definisi berdasarkan pendekatan terminologi, “Our approach to defining these terms involves two complementary methods. The terminology is analyzed based on the individual meaning of the constituting terms, and the meaning of related concepts.” Berdasarkan hal tersebut, maka mereka memberikan definisi untuk masing-masing istilah di atas sebagai berikut: (1) e-learning sebagian besar berkaiatan dengan kegiatan yang melibatkan komputer dan jaringan interaktif secara bersamaan. Artinya, komputer tidak perlu menjadi elemen pusat dalam kegiatan atau menyediakan isi pembelajaran, tetapi komputer dan jaringan harus memegang keterlibatan besar dalam kegiatan pembelajaran; (2) Online learning dihubungkan dengan konten yang siap diakses pada komputer. Konten tersebut mungkin di Web atau internet, atau
Sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 bahwa Pendidikan merupakan suatu proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan potensi dirinya sehingga mampu menghadapi setiap perubahan serta membuat peserta didik berpikir aktif. Proses tersebut memiliki unsur-unsur seperti pendidik sebagai sumber informasi, media sebagai sarana penyajian gagasan dan materi pendidikan, serta peserta didik itu sendiri. Sebagian dari unsur ini mendapatkan sentuhan teknologi informasi dan komunikasi yang akan mencetuskan ide e-Learning. Rosenberg dalam Suyanto (2005:1) menekankan bahwa e-Learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan Permana (2009:4) yang mendefinisikan e-Learning sebagai pemanfaatan teknologi internet untuk mendistribusikan materi pelajaran sehingga peserta didik dapat mengakses dari mana saja. Hanya diinstal pada CD-ROM atau hard disk computer; (3) distance learningmelibatkan interaksi pada jarak jauh antara instruktur dan peserta didik, dan memungkinkan reaksi instruktur tepat waktu pada peserta didik. Dengan cukup memposting atau menyiarkan materi pembelajaran untuk peserta didik bukan merupakan pembelajaran jarak jauh. Instruktur harus terlibat dalam menerima umpan balik dari peserta didik; dan (4) web-based learningdihubungkan dengan materi pembelajaran yang disampaikan dalam Web browser, termasuk ketika materi dikemas dalam CD-ROM atau media lain(Munawar, 2011: 3-4).
Di dalam pembahasan kesempatan ini, penulis lebih pada sistem pembelajaran berbasis e-learning, karena sistem ini mulai banyak digunakan oleh lembaga pendidikan. Di antara lembaga pendidikan yang saat ini sedang berupaya untuk menerapkan sistem pembelajaran berbasis internet secara massif adalah perguruan tinggi. Menurut Eka Prastya dan Didi Achjari (2008: 15) teknologi informasi mempunyai peranan yang sangat penting dan semakin meningkat dalam proses pembelajaran di perguruan tinggi. Selain itu, keduanya juga mengutip pendapat Shroff. et al. yang menyatakan bahwa teknologi telah memainkan peran yang nyata dalam dunia pendidikan melalui sistem pembelajaran e-learning berbasis internet. Tidak mengherankan kalau saat ini perguruan tinggi berlomba-lomba untuk menggunakan internet dalam berbagai aspek seperti e-learning dan perpustakaan elektronik/digital.Hujair AH. Sanaky (2009: 205) berpendapat bahwa terdapat banyak manfaat dan dampak yang diperoleh dari pembelajaran melalui e-learningapabila diaplikasikan di dalam lembaga pendidikan termasuk juga di perguruan tinggi, yaitu sebagai berikut:
1. Perubahan budaya belajar dan peningkatan mutu pembelajaran peserta didik dan dosen.
2. Perubahan pertemuan pembelajaran yang tidak terfokus pada pertemuan (tatap muka) di kelas dan pertemuan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu melalui fasilitas e-learning.
3. Tersedianya materi pembelajaran di media elektronik melalui website e-learning yang mudah diakses dan dikembangkan oleh peserta didikdan mungkin juga masyarakat.
4. Pengayaan materi pembelajaran sesuai dengan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi.
5. Menciptakan kompetitive positioning dan meningkatkan brand image.
6. Meningkatkan kualitas pembelajaran dan kepuasan peserta didik serta kualitas pelayanan.
7. Interaktivitas peserta didik meningkat, karena tidak ada batasan waktu untuk belajar.
8. Peserta didik menjadi lebih bertanggung jawab akan kesuksesannya (learner oriented).
Untuk mempermudah penggunaan e-learning, pembelajaran yang menggunakan e-learning difasilitasi secara online maupun offline. Untuk memfasilitasi e-learning dengan bantuan koneksi internet, dalam beberapa tahun terakhir, telah dikembangkan banyak aplikasi yang dirancang untuk mendukung proses pembelajaran. Aplikasi ini sering disebut dengan Learning Management System (LMS). LMS ini mengintegrasikan banyak fungsi yang mendukung proses pembelajaran seperti memfasilitasi berbagai macam bentuk materi instruksional (teks, audio dan video), e-mail, chat, diskusi online, forum kuis dan penugasan. Beberapa contoh LMS adalah
Moodle, WebCT, Blackboard, Macromedia Breeze, dan Fronter. LMS sudah banyak diadopsi oleh banyak lembaga pendidikan di dunia.Selain itu, pemanfaatan dan penggunaan e-learning akan berhasil jika pengembangannya menggunakan pendekatan yang bisa menghasilkan produk e-learning yang berkualitas. Salah satu pendekatan perkembangan e-learning yang biasa digunakan oleh para pengembang adalah perspektif Alessi&Trollip. Nama panjang Alessi adalah Stephen M. Alessi. Dia dosen di Universitas Lowa Amerika Serikat. Sedangkan nama panjang Trollip adalah Stanley R. Trollip. Dia dosen di Universitas Capella Amerika Serikat. Karya terkenal mereka dan banyak digunakan di perguruan tinggi di Indonesia terutama di Fakultas Teknologi Pembelajaran atau Pendidikan salah satunya adalalh Multimedia For Learning: Methods and Development.
II. Landasan Teori
B. Pengertian dan Prinsip E-Learning
Menurut Clark, dalam Ekwensi (2006), at.al., e-learning didefinisikan sebagai berikut:
E-learning, by its very nature, is a great forum in which self directed learning can occur. Asynchronus classes which offer guidelines for learners to work at their own pace, in their own environment, utilizing resources often found through self-guided researc Student can work independenty, visiting virtual libraries, museums and even access newspapers and the lates research from the comfort of the their own home.E-Learning menggambarkan sebuah forum pembelajaran besar, yang dilengkapi petunjuk yang dapat diikuti peserta didik untuk bekerja pada saat yang bersamaan secara mandiri. Dalam hal ini, peserta didik belajar dengan gayanya sendiri, mencari sumber-sumber/peralatan belajar dan bekerja secara mandiri di rumahnya. Peserta didik dapat mengunjungi berbagai perpustakaan, museum dan kejadian yang diakses secara online dari berbagai surat kabar dan penulisan terdahulu. Berdasarkan beberapa keterangan tersebut di atas dapat diperoleh konsep e-learning secara umum, yaitu suatu pembelajaran elektronik berbasis Web (jaringan) atau TIK yang dibuat dengan prinsip dan metode tertentu sehingga dapat digunakan sebagai media pembelajaran open sourcesyang menarik dan jelas (visibility). Pembelajaran dengan e-learning memungkinkan peserta didik belajar secara individual, kolaboratif, aktif,konstruktif, kontekstual, reflektif, multisensory, serta mengasah berpikir tingkat tinggi, baik melalui aplikasi internet maupun intranet. Sedangkan prinsip-prinsip e-learning, Prakoso (2005:6-8) membaginya menjadi enam prinsip, yaitu: (1) pusat kegiatan peserta didik; (2) interaksi dalam group; (3) sistem administrasi siswa; (4) evaluasi; (5) perpustakan digital; dan (6) materi online.
Clark & Meyer (2003: 1-2) juga mengklasifikasikan prinsip e-learningmenjadi enam prinsip, yaitu: (1) principles for including media elements, (2) principles for creating online practice exercises, (3) principles for leveraging examples in e-learning, (4) principles/guidelines for online collaboration, (5) principles for learner control in e-learning, dan (6) principles for building problem solving skills through e-learning.
Dari enam prinsip tersebut, prinsip e-learning pertama, yaitu tentang elemen media meliputi enam komponen yang harus diperhatikan. Keenam komponen tersebut yaitu: multimedia (penggunaan beberapa media untuk mengekspresikan pesan), contiguity (kecocokan antara teks dengan alat bantu grafis), modality (gunakan alat bantu untuk memperjelas pesan), redundancy (ketepatan alat bantu), coherency (alat bantu jangan berlebihan).
Tentang elemen media ini ditekankan pada pembahasan aspek multimedia dan contiguity, karena keduanya merupakan “ruh“ e-learning dari aspek tampilan. Jika dua aspek ini baik maka modality, redundancy, dan coherency akan baik juga.
Menurut Prasetio, dkk., (2012:3) salah satu perbedaan pembelajaran tradisional dengan e-Learning yang menggunakan web adalah terletak pada siapa yang menjadi pusat dalam pembelajaran. Pada kelas tradisional, guru atau dosen dianggap sebagai orang yang serba tahudi bidangnya dan ditugaskan untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak didiknya, sedangkan di dalam pembelajaran e Learning berbasis web fokus utamanya adalah pelajaratau mahasiswa. Suasana pembelajaran e-Learning akan memaksa pelajar atau mahasiswa memainkan peran yang lebih aktif dalam pembelajarannya. Pelajar atau mahasiswa akan mencapai materi dengan usaha dan inisiatif sendiri.
III. Langkah dan Prosedur Pengembangan E-Learning Perspektif Alessi&Trollip
Tiga atribut pengembangan berdasarkan model Alessi&Trollip dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Standard merupakan langkah awal atau pondasi dari sebuah proyek
penelitian. Di dalamnya didefinisikan kualitas proyek yang
direncanakan, sedangkan poin-poin diperhitungkan untuk
menentukan kualitas dalam fase perencanaan (planning). Untuk
melihat standar kualitas yang diinginkan dalam pengembangan
produk ini, maka langkah yang dilakukan yaitu menentukan
bidang/ruang lingkup batasan, mengidentifikasikan karakteristik
pembelajar, menetapkan hambatan, mamperkirakan biaya, membuat
dokumen perencanaan, memproduksi sebuah buku pedoman,
menentukan dan mengumpulkan sumber-sumber, melakukan
brainstroming, menetapkan rencana tampilan
2. Ongoing evaluation yaitu evaluasi berkelanjutan dari tahap awal
hingga akhir kegiatan dengan mengacu kepada standar yang telah
ditetapkan sebelumnya. Semua komponen dalam proyek harus diuji,
dievaluasi, dan jika perlu direvisi sebelum produk diimplementasikan.
Di dalam proses ongoing evaluation ini, peneliti melibatkan ahli media
(pengevaluasi media, ahli materi (pengevaluasi materi), peserta didik
dengan kelompok kecil dan besar (menguji coba dan mengevaluasi
produk).
3. Project management yaitu berkaitan dengan pengaturan sumber-
sumber seperti uang, waktu, materi dan lain-lain. Bagian dari proses
ini adalah perencanaan di awal proyek seperti pembuatan matriks
kerja, monitoring kemajuan yang dicapai.
Selain atribut terdapat juga tiga fase pengembangan berdasarkan model Alessi&Trollip, yaitu:
1. Perencanaan (planning), mencakup mendefinisikan bidang/ruang
lingkup batasan, mengidentifikasikan karakteristik pembelajar,
menetapkan hambatan, mamperkirakan biaya, membuat dokumen
perencanaan, memproduksi sebuah buku pedoman, menentukan dan
mengumpulkan sumber-sumber, melakukan brainstroming,
menetapkan rencana tampilan, dan persetujuan dari klien.
2. Desain (design) mencakup mengembangkan ide-ide, melakukan
analisis konsep dan tugas, melakukan deskripsi program awal,
menyiapkan prototype, membuat flowchart dan storyboard,
menyiapkan scripts, dan persetujuan dari klien.
3. Pengembangan (developmet), mencakup menyiapkan teks, menuliskan
kode program, membuat grafik, memproduksi audio dan video,
menggabungkan bagian-bagian, menyiapkan materi-materi
pendukung, melakukan uji alfa, melakukan revisi, melakukan uji beta,
membuat revisi akhir, persetujuan klien, dan memvalidasi program.
PERMASALAHAN
1. Bagaimana cara menguji ke efektifan dari e-learning yang akan kita terapkan ke peserta didik?
2. Bagaimana cara e-learning mengatasi permasalahan bagi si pengguna? Khususnya bagi peserta didik dalam pembelajaran kimia?
3. Salah satu kelemahan e-learning adalah sulit diterapkan untuk daerah terpencil. Bagaimana solusinya?
saya ingin menanggapi pertanyaan saudari nomor 2 dimama bagaimana cara e-learning mengatasi permasalahan bagi si pengguna? Menurut saya caranya dengan dilakukan adaptasi sehingga penggunaan e-learning dapat mengatasi kesulitan belajar si siswa terkhusus pada mata pelajaran kimia yang meskipun tidak semua materi cocok dijelaskan dengan pembelajaran e-learning.
BalasHapussaya sependapat dengan rahmi, saya ingi menambahkan jika anak sering diperkenalkan dengan e-learning maka lama kelaman akan terbiasa. dengan membuat tugas dari video yang telah kita beri yang dimasukan kedalam blog atau you tube. Jika semua anak tidak mempunyai leptop, kuota atau sebagainya kita bisa membagi videonya atau membagi beberapa kelompok.
HapusBaiklah, menanggapi pendapat dari yulinda dan rahmi, e-learning menjawab permasalahan dengan menyajikan layanan pembelajaran kapan dan dimana saja dapat diakses. E-learning juga tak hanya menyajikan materi, melainkan sasaran tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, sesi tanya jawab, tugas dan evaluasi. Sehingga siswa dapat lebih memahami pembelajaran
HapusSaya akan menanggapi permasalah no.2 menurut saya e-learning mampu mengatasi permasalahan dalam pembelajran. Seperti yang kita ketahui bahwa e-learning, Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience). maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran elektronik semakin lebih banyak atau meluas. Ruang dan tempat serta waktu tidak lagi menjadi hambatan. Siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, seseorang dapat belajar. Interaksi dengan sumber belajar dilakukan melalui internet. Kesempatan belajar benar-benar terbuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan. Melalui Internet organisasi akan dapat lebih fokus pada penyelenggaraan program pendidikan/pelatihan. Mengakomodasi keseluruhan proses belajar dan juga transaksi. Materi dapat dirancang secara multimedia dan dinamis. Peserta belajar dapat terhubung ke berbagai perpustakaan maya di seluruh dunia dan menjadikannya sebagai media penelitian dalam meningkatkan pemahaman pada bahan ajar. Guru/instruktur/dosen dapat secara cepat menambahkan referensi bahan ajar yang bersifat studi kasus, trend industri dan proyeksi teknologi ke depan melalui berbagai sumber untuk menambah wawasan peserta terhadap bahan ajarnya.
BalasHapusTerimakasih atas ulasan saudari wulan, sangat lengkap dan tepat. Jadi intinya e-learning mampu mengatasi permasalahan dalam pembelajran. Seperti yang kita ketahui bahwa e-learning, Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience). maka jumlah peserta didik yang dapat dijangkau melalui kegiatan pembelajaran elektronik semakin lebih banyak atau meluas.
HapusBaiklah saya akan mencoba menjawab permasalahan no 1
BalasHapusE-Learning dapat menjadi efektif apabila adanya kerjasama antara pengajar dan siswanya untuk mensukseskannya, tanpa salah satu dari keduanya keberadaan E-Learning tidak akan berjalan secara lancar. Untuk itulah diperlukan komunikasi yang erat antar keduanya. Selain dari itu, efektivitas E-Learning juga didukung oleh keahlian dan kreativitas pengajar dalam meracik materi yang akan disampaikan. Hal ini juga termasuk pada keahlian pengajar dalam mengoperasikan perangkat elektronik.
Baiklah menanggapi pendapat febri, ke efektifan e-learning juga bergantung pada yang disebutkan febri. Namun juga, ke efektifan nya juga dinilai dari kemudahan untuk dijangkau semua peserta didik, serta cara oengoperasiannya rumit atau tidaj
HapusSaya akan mencoba menjawab pertanyaan nomor tiga.
BalasHapusNegara Indonesia sudah mulai menggunakan program pembelajaran ini, Karena e-learning ini merupakan salah satu alternatif utama untuk menjangkau daerah terpencil atau pelosok agar bisa menikmati pendidikan sebagaimana para siswa di kota besar. e-learning juga menjadi salah satu cara untuk meningkatkan mutu pendidikan dan mempercepat proses belajar mengajar. Namun, di Indonesia masih kurang mengerti akan penggunaan e-learning itu sendiri dan kurang di manfaatkan di sekolah-sekolah atau bahkan di perguruan tinggi di Indonesia sekalipun.
penggunaan e-learning yang tidakbisa lepas dari peran internet inilah yang membuat pemanfaatannya kurang maksimal di indonesia, seperti yang kita ketahui sendiri di Indonesia banyak sekali warga negaranya yang masih belum mengerti dan tahu akan teknologi bahkan ironosnya masih banyak yang buta huruf. Selain itu, banyak sekali daerah-daerah yang tidak dapat di jangkau oleh sinyal bahkan listrik juga tidak bisa menjangkaunya.
Sebenarnya bukan masalah sumber daya manusianya yang tidak mau menerimakemajuan teknologi tersebut, namun adanya fenomena atau keadaan yang kurang mendukung seperti kejadian di atas yang membuat sistem pengajaran di Indonesia belum maksimal, terutama e-learning. Keadaan perekonomian pun turut mempengaruhi.
Jadi menurut saya, untuk daerah terpencil jika tidak dapat menggunakan elearning, sebaiknya menggunakan media lainnya yang dapat menunjang pembelajaran asalkan sesuai dengan materi ajar dan mudah dipahami oleh siswa.
Baiklah menanggapi pernyataan intan, benar kendala ekonomi dan perkembangan teknologi menjadi hambatan dalam menerapkan e-learning di tempat terpencil. Untuk solusinya, saya rasa langsung dari pihak pemerintah yang harus lebih memperhatikan fasilitas pendidikan agar menyeluruh. Dan setiap anak bisa mengenal teknologi.
HapusBaiklah, saya menaggapi prtanyaan yang pertama. Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kuantitas,kualitas dan waktu) telah tercapai. Dimana makin besar presentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya. Sedangkan Handoko (1997:7) menjelaskan bahwa efektivitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang ditetapkan.
BalasHapusDegeng (1989:19) menyatakan ada empat kriteria yang digunakan dalam menetapkan efektivitas pembelajaran
1) Kecermatan Penguasaan
Semakin cermat siswa semakin menguasai perilaku yang dipelajari, semakin efektif pembelajaran yang telah dijalankan. Tingkat kecermatan dapat ditunjukkan oleh jumlah kesalahan dalam menyelesaikan soal.
2) Kecepatan unjuk kerja
Jumlah waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan soal tertentu. Dalam hal ini unjuk kerja dapat digunakan sebagai indikator untuk menetakan keefektifan pembelajaran.
3) Tingkat Alih Belajar
Kemampuan siswa meningkatkan belajar dari apa yang telah dikuasai kemudian beralih ke hal lain yang serupa atau sejenis.
4) Tingkat Retensi
Tingkat kemampuan dalam menyelesaikan soal yang masih mampu ditampilkan setelah selang periode waktu tertentu.
Baiklah untuk menanggapi pernyataan saudara atma, saya setuju dengan ulasan mengenai ke efektifan. Sedikit menambahkan ke efektifan e-learning yang digunakan bisa dilihat dari hasil evaluasi dan aktivitas yang terjadi dalam platform.
HapusSaya akn mencoba menjawab permasalahn ke 3 .. e learning dapat dilakukan dengan menggunakan koneksi internet ..sehingga kalau tidak terdapat internet maka mustahil pembelajaran dengan menggunakan ini sulit dilakukan .. lagipula penggunaan ini harus mengerti penggunaan IT
BalasHapusTerimakasih tanggapan dari saudari fania, benar sekali. Untuk penggunaan e-learning sendiri sangat butuh jaringan internet, jadi untuk daerah yang belum terjangkau inyernet, akan kesulitan menerapkan e-learning.
Hapusbaik saya h menambahkan jawaban no 3
BalasHapusdaerah terpencil bisa juga dilakukan pembelajaran elearning, namun aparat-apartanya harus berusaha untuk memsukkan jaringan kedaerah tersebut. namun untuk pada saat ini semua daerah sudah merata. pada umumnya sudah bisa dilaksanakan pembelajaran elearning karena sekolah sudah ada program pembelajaran menggunakan IT
saya akan menjawab permasalahan no. 1
BalasHapusuntuk menguji ke efektifan dari e-learning yang akan kita terapkan. Sebelum diuji cobakan ke lapangan, produk yang peneliti
kembangkan terlebih dahulu meminta penilaian dari ahli media
sebagai acuan dalam merevisi E-Learning. Ahli yang menjadi
validator dalam pengembangan produk ini adalah
sebagai pengamapu mata kuliah Pembelajaran Jarak Jauh , ahli media langsung mencoba produk E-Learning dan diberikan angket penilaian. Adapun pelaksanaannya
dalam penilaian produk tersebut, peneliti mendampingi, sehingga
apabila ada pertanyaan terhadap produk tersebut bisa langsung
dijawab oleh peneliti. Saran yang diberikan dari ahli media akan
menjadi acuan bagi peneliti untuk melakukan perbaikan produk E- Learning yang dikembangkan. kemudian baru dilakukan Hasil Uji Coba Tahap Awal dan Revisi Produk. revisi produk dilakukan dengan cara memberikan angket kepada siswa. sehingga dengan cara ini kita akan akan tahu seberapa efektif e learning ini diterapkan kepada peserta didik.
Saya akan menjawab permaslahan Anda yang ketiga. Kita ketahui e-learning dapat dilakukan jika penagajar maupun muridnya haRus mempunya fasilitas" yang memadai. Jika di daereh terpelosok ITU minim akan Hal fasilitas Maka menurut Saya pengajat cukup menggunakan alat-alat peraga sederhana yang lebih mereka mengerti Dan di dapat daripada memaksakan pembelajaran e-learning yang kurang memadai
BalasHapusbaiklah saya akan menanggapi permasalahan yang ketiga dimana kelemahan e-learning pada daerah terpencil adalah koneksi internet yang tidak stabil. solusinya adalah menyediakan sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam mengembangkan pembelajaran e-learning, setidaknya koneksi internet sudah menjangkau kawasan terpencil tersebut
BalasHapus