TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA
- Multimedia Insruksional
Mengapa seseorang dapat membaca atau mendengarkan setiap kata dari sebuah penjelasan ilmiah, termasuk penjelasan tentang hubungan sebab-akibat, tetapi tidak dapat menggunakan informasi tersebut untuk memecahkan masalah? Menurut Pranata (2004) menyajikan penjelasan verbal mengenai bagaimana sesuatu sistem bekerja tidak menjamin seseorang dapat memahami penjelasan tersebut. Penelitian juga telah menemukan bukti bahwa cara yang efektif untuk membantu agar informasi ilmiah dapat lebih mudah dipahami ialah melalui penjelasan informasi secara multimodal. Artinya pesan pembelajaran dikemas dengan sedemikian rupa melalui beragam saluran yaitu visual, audio maupun keduanya secara simultan dalam format multimedia.
Multimedia didefinisikan dengan berbagai macam cara. Pranata (2004) meringkas beberapa definisi tersebut. McCormick, misalnya, mendefinisikan multimedia sebagai kombinasi dari tiga elemen desain pesan yaitu suara, gambar, dan teks; Turban mendefinisikannya sebagai kombinasi dari paling sedikit dua media input atau output data audio (suara, musik), animasi, video, teks, grafik, dan gambar. Sementara itu, Rosch mendefinisikan multimedia sebagai kombinasi dari komputer dan video. Definisi multimedia yang bertolak dari aspek desain pesan antara lain digunakan untuk menjelaskan multimedia menurut tinjauan instruksional yaitu “the capability to present video, audio, and animation, as well as computer graphics and text, all on the same computer monitor at the same time.” (Merrill 1996:151). Multimedia instruksional menunjuk kepada presentasi yang dibuat utamanya dengan mengkombinasikan elemen-elemen visual (berkaitan dengan citra gambar, animasi, video, dan warna) dan verbal (berkaitan dengan citra suara seperti elemen-lemen bahasa antara lain narasi, teks, dan label). Dalam konteks perancangan pesan multimedia pembelajaran terdapat beberapa teori yang berbeda. Pertama, teori yang berfokus pada pentingnya upaya meningkatkan daya tarik desain pesan agar dapat memperbesar efek perhatian. Kedua, berfokus pada perangkapan elemen desain pesan agar dapat memperbesar peluang dicapainya pemahaman. Ketiga, berfokus pada pemrosesan dan kapasitas memori kerja agar diperoleh hasil belajar yang efektif.
- Teori Pemrosesan Informasi
Menurut teori pemrosesan informasi, pengetahuan yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan dalam memori jangka panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara hirarkis. Tahap pemahaman dalam pemrosesan informasi dalam memori kerja berfokus pada bagaimana pengetahuan baru dimodifikasi. Pemahaman berkenaan dan dipengaruhi oleh interpretasi terhadap stimulus. Faktor stimulus adalah karakteristik dari elemen-elemen desain pesan seperti ukuran, ilustrasi, teks, animasi, narasi, warna, musik, serta video. Studi tentang bagaimana informasi diidentifikasi, diproses, dimaknai, dan ditransfer dalam dan dari memori kerja untuk disimpan dalam memori jangka panjang mengisyaratkan bahwa pendesainan pesan merupakan salah satu topik utama dalam pendesainan multimedia pembelajaran. Dalam konteks ini, desain pesan multimedia pembelajaran berkenaan dengan penyeleksian, pengorganisasian, pengintegrasian elemen-elemen pesan untuk menyampaikan sesuatu informasi. Penyampaian informasi bermultimedia yang berhasil akan bergantung pada pengertian akan makna yang dilekatkan pada stimulus elemen-elemen pesan tersebut.
Teori ini didasarkan pada model memori dan penyimpanan yang dikemukakan oleh Atkinson dan Shiffin dalam Levitin (2002:296) menyatakan bahwa memori manusia terdiri dari tiga jenis, yaitu sensori memori (sensory register) yang menerima informasi melalui indra penerima seperti mata, telinga, hidung, mulut, dan atau tangan, setelah beberapa detik informasi tersebut akan hilang atau diteruskan pada ingatan jangka pendek (short term memory atau working memory). Informasi tersebut setelah 5 – 20 detik akan hilang atau tersimpan ke dalam ingatan jangka panjang (long term memory).
Teori pemrosesan informasi berpijak pada tiga asumsi sebagaimana dikemukakan Lusiana dalam Budiningsih (2005:82) bahwa: (a) antara stimulus dan respon terdapat suatu seri pemrosesan informasi di mana pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu, (b) stimulus yang diproses melalui tahapan tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk atau isinya, dan (c) salah satu dari tahap memiliki keterbatasan kapasitas.
Implikasi dari teori pemrosesan informasi yang memandang belajar adalah pengkodean informasi ke dalam memori manusia seperti layaknya sebuah cara kerja komputer dan karena memori memiliki keterbatasan kapasitas, pembelajaran harus dapat untuk menarik perhatian siswa dan menyediakan aplikasi berulang dan praktik secara individual agar informasi yang diberikan mudah dicerna dan dapat bertahan lama dalam memori siswa, dan aplikasi komputer memiliki semuanya dengan kualitas yang sangat baik. Dalam mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan media pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial. Sebagai contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian katakata atau kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda).
Sebenarnya istilah desaIn pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi dari sebuah pola tanda yang memungkinkan untuk mengkondisi pemerolehan informasi. Kata desain menunjukkan adanya suatu proses dan suatu hasil. Sebagai suatu proses, desain pesan sengaja dilakukan mulai dari analisis masalah pembelajaran hingga pemecahan masalah yang disumuskan dalam bentuk produk. Produk yang dihasilkan dapat dalam bentuk prototipe, naskah atau stori board, dan sebagainya.
Desain pesan pembelajaran meliputi perencanaan untuk merekayasa bentuk fisik dari pesan atau informasi. Hal tersebut mencakup prinsip-prinsip perhatian, persepsi, dan daya serap yang mengatur penjabaran bentuk fisik dari pesan atau informasi, agar terjadi komunikasi antara pengirim dan penerima. Fleming dan Levie (dalam Budiningsih,2002) membatasi pesan pada pola-pola isyarat atau simbol yang memodifikasi perilaku kognitif, afektif, dan psikomotor. Desain pesan berurusan dengan tingkat paling mikro melalui unit-unit kecil seperti bahan visual, urutan, halaman dan layar secara terpisah.
Adapun karakteristik lain dari desain pesan adalah bahwa desain pesan harus bersifat spesifik baik terhadap medianya maupun tugas belajarnya. Hal ini mengandung arti bahwa prinsip-prinsip desain pesan akan berbeda tergantung apakah medianya bersifat statis, dinamis atau kombinasi dari keduanya, misalnya suatu potret, film, atau grafik komputer. Juga apakah tugas belajarnya berupa pembentukan konsep atau sikap, pengembangan ketrampilan atau strategi belajar, ataukah menghafalkan informasi verbal. Berdasarkan hasil dari suatu penelitian ditemukan bukti bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia pembelajaran mempengaruhi kualitas performansi dari pebelajar (Pranata, 2004).
Adapun beberapa teori yang melandasi perancangan desain pesan multimedia instruksional ialah teori pengkodean ganda, teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Menurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan memori kerja auditori. Teori muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan (dapat di periksa pada Gambar 1). Temuan-temuan penelitian (Pranata, 2004) telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang independent yaitu pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi yang masuk. Hal terpenting yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori, seharusnya menjadi pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain sesuatu pesan multimedia.
PERMASALAHAN
1. Bagaimana cara agar media menjadi tidak terbatas sebagai saranan proses informasi bagi pebelajar di sekolah luar biasa terutama dalam penyampaian mata pelajaran kimia?
2. Melalui media, bagaimana cara anda untuk menghubungkan apa yang terjadi di lingkungan sekitar peserta didik agar bisa menjadi suatu informasi yang tentunya berkaitan dengan materi kimia, sehingga pembelajaran tak hanya kondusif namun juga interaktif? Sertakan beserta contoh!
3. Bisakah semua informasi yang diberikan saat proses pembelajaran menjadi sebuah memori jangka panjang?
Saya mau menanggapi permasalahan no.1
BalasHapusMedia-media yang akan dipilih dalam proses pembelajaran harus memenuhi syarat-syarat visible, intresting, simple, useful, accurate, legitimate, structure (VISUALS). Dan media tersebut dapat menjadi:
1) Demonstration.
Dalam hal ini media dapat digunakan sebagai alat untuk mendemonstrasikan sebuah konsep, alat, objek, kegunaan, cara mengoperasikan dan lain- lain. Media berfungsi sebagai alat peraga pembelajaran, seorang guru kimia akan menjelaskan proses perubahan-perubahan zat dengan menggunakan gelas ukur, sebelum dilakukan praktikum, terlebih dahulu guru tersebut memperagakan bagaimana cara menggunakan gelas ukur dengan baik.
2) Familiarity.
Pengguna media pembelajaran memiliki alasan pribadi mengapa ia menggunakan media, yaitu karena sudah terbiasa menggunakan media tersebut, merasa sudah menguasai media tersebut, jika menggunakan media lain belum tentu bisa dan untuk mempelajarinya membutuhkan waktu, tenaga dan biaya, sehingga secara terus menerus ia menggunakanmedia yang sama.
3) Clarity
menggunakan media adalah untuk lebih memperjelas pesan pembelajaran dan memberikan penjelasan yang lebih konkrit. Misalnya, guru ingin menjelaskan konsep redoks dengan bantuan media baik alat seperti besi berkarat atau apel yg dikupas atau video dalam ppt akan membuat materi ajar semakin jelas. Disinilah banyak pengguna media, memiliki alasan bahwa menggunakan media adalah untuk membuat informasi lebih jelas dan konkrit sesuai kenyataannya.
Terimakasih atas responnya. Kimia
Hapusmerupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang membahas
tentang sesuatu yang abstrak dan tidak dapat dipahami hanya
dengan membaca sehingga diperlukan suatu media pembelajaran
kimia yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik difabel netra
dan rungu serta mendukung peserta didik yang berkebutuhan
khusus agar dapat berkembang sesuai dengan kemampuannya.
Media pembelajaran kimia yang umum digunakan dalam proses
pembelajaran bagi peserta didik tunanetra adalah braille garis,
sedangkan media pembelajran kimia bagi peserta didik tunarungu adalah textbook dengan dilengkapi daftar istilah. Adanya media
pembelajaran kimia yang sesuai ini, dapat menjadikan peserta
didik difabel berpartisipasi aktif dalam pembelajaran kimia. Prinsip pembelajaran bagi anak difabel netra bila dibandingkan
anak awas pada umumnya adalah: duplikasi, modifikasi, substitusi,
dan omis. Sedangkan media pembelajaran kimia bagi peserta didik
difabel netra adalah bacaan dan tulisan braille, keyboarding, alat
bantu menghitung (calculator aids), optacon, teknologi computer,
buku bersuara (talking book), dan mesin baca Kurzweil (kurzweil
reading machine) (Smith, 2012). Media pembelajaran kimia sangat penting bagi peserta peserta
didik difabel atau peserta didik nondifabel untuk mempermudah
dalam menerima materi kimia yang dijelaskan oleh pendidik.
Proses pembelajaran kimia di kelas membutuhkan media
pembelajaran kimia sesuai dengan kebutuhan peserta didik baik
peserta didik difabel maupun peserta didik nondifabel. Peserta
didik difabel netra dan rungu memiliki media pembelajaran khusus.
Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti, ketersediaan
media pembelajaran kimia bagi peserta didik difabel netra dan
difabel rungu di SMA N 1 Sewon masih sangat terbatas. Media
pembelajaran kimia bagi peserta didik difabel netra berupa buku
paket kimia braille yang berada di perpustakaan, reglet dan stilus
yang dimiliki setiap peserta didik difabel netra, aplikasi JAWS yang
diinstal di komputer masing-masing peserta didik difabel netra
serta audio tentang struktur atom yang berasal dari penelitian
mahasiswa. Sedangkan media pembelajaran kimia bagi peserta
didik difabel rungu berupa flash card pada materi sistem periodik
unsur yang berasal dari penelitian mahasiswa.
Baiklah saya akan menjawab permaslahan yang ketiga, menurut saya semua itu dapat terjadi jika pada pemrosesan informasi tersebut tidak menagalami masalah. Dengan melaui proses dari memori sensori mencatat informasi atau stimuli yang masuk melalui salah satu atau kombinasi dari panca indra, yaitu secara visual melalui mata, pendengaran melalui telinga, bau melalui hidung, rasa melalui lidah, dan rabaan melalui kulit. Bila informasi atau stimuli tersebut tidak diperhatikan akan langsung terlupakan, namun bila diperhatikan maka informasi tersebut ditransfer ke system ingatan jangka pendek. Sistem ingatan jangka pendek menyimpan informasi atau stimuli selama sekitar 30 detik, dan hanya sekitar tujuh bongkahan informasi(chunks) dapat disimpan dan
BalasHapusdipelihara di system memori jangka pendek dalam suatu saat. Setelah berada di system memori jangka pendek, informasi tersebut dapat ditransfer lagi dengan proses pengulangan ke system ingatan jangka panjang untuk disimpan, atau dapat juga informasi tersebut hilang/terlupakan karena tergantikan oleh tambahan bongkahan informasi baru (displacement). Selanjutnya setelah berada di system memori jangka panjang, informasitersebut dapat diperoleh kembali melalui strategi tertentu, atau informasi tersebut terlupakan (gagal atau tidak dapat diperoleh kembali) karena adanya kekurangan dalam system pengarsipannya.
Denagamn demikian jika siswa dapat melalui proses diatas dengan baik maka tidak mungkin jika semua informasi yang diberikan saat proses pembelajaran menjadi sebuah memori jangka panjang.
Baik lah, saya setuju dgn pendapat saudari desi. Dan ingin sedikit menambahkan bahwa menurut Para psikolog penyimpanan informasi dpt disebabkan karna adanya perbedaan dalam kode-kode memori. Mereka berpendapat bahwa ada dua kode dalam memori, yaitu kode akustik (acoustik code) dan kode sematik (sematic code). Akustik (acoustik code), kode yang berdasarkan bunyi. Kode ini merupakan kode memori yang dominan dalam memori jangka pendek. Sedangkan kode sematik (sematic code), kode yang berdasarkan makna. Kode ini merupakan kode yang dominan dalam memori jangka panjang. Sehingga informasi dapat masuk dlm memori jangka panjang jika peserta didik dlm KBM memaknai informasi yg ia dapatkan.
HapusWahhh, terimakasih sebelumnya atas pendapat desi dan novi. Sebelumnya saya ingin mengenalkan si memori jangka pendek, Baddelay dan Hitch (2010)
Hapusmembuktikan bahwa kemampuan ingatan
jangka pendek, atau yang disebutnya dengan
working memory, merupakan sistem memori
yang memainkan peran utama dalam proses
memori manusia. Ini sesuai dengan Gill dan
kawan-kawan (2003) yang juga mengatakan
bahwa meskipun terbatas kapasitasnya,
memori jangka pendek penting bagi manusia
ketika akan mengartikan kata-kata saat
menjalin komunikasi. Kemampuan ini
memberikan kemudahan pada manusia untuk
menyimpan informasi secara temporer atau
sementara dan memanipulasi inoformasi yang
diperlukan untuk berbagai macam tugas
kognitif yang kompleks. Ada sebuah teknik agar memori jangka pendek dapat dikembangkan yaitu dengan teknik rehersal. Rehearsal yaitu suatu proses kognisi
dimana informasi akan diulang terus menerus
agar individu bisa mengingatnya (Ormrod,
2006), secara verbatim (Siegler, 1991),
maupun secara mental dan vokal (Boyd dan
Bee, 2009). Teknik ini akan membantu individu
untuk mengingat materi, sehingga informasi
atau item akan mudah diingat karena selalu
dimunculkan atau berada dalam short-term
memory. Informasi menjadi familiar dalam
ingatan individu. Semakin lama informasi atau
item dipertahankan dalam memori jangka
pendek dengan strategi rehearsal maka semakin
besar kemungkinan informasi tersebut akan
ditransfer ke memori jangka panjang (McNeal
dan Dwyer, 1999). Craik dan kawan-kawan
(2010) mengutip pendapat Atkinson dan
Shiffrin mengatakan bahwa rehearsal memiliki
2 fungsi, yaitu untuk mempertahankan
informasi dalam primary memory, yaitu ingatan
yang berada dalam ingatan jangka pendek, dan
tranfer menuju secondary memory atau ingatan
jangka panjang yang memiliki kapasitas lebih
besar.
Baikalah saya akan menanggapi pertanyaan no 3
BalasHapusTidak semua informasi yang di peroleh manusia akan menjadi memori yang bersifat LTM. Berikut ini adalah hal-hal yang termasuk dalam LTM:
Pengetahuan
Kepercayaan
Sistem nilai
Bahasa dan seni
Keterampilan motorik
Spatial mode (ruangan)
Karena tidak terpikirkan seberapa memori kita mampu mengingat begitu banyak hal. Apalagi membayangkan kapasitas dan durasi informasi yang tersimpan dalam LTM. Jaman modern seperti sekarang ini pasti sudah banyak orang mengetahui komputer dimana penyimpanannya sangat tidak terbatas, namun tidak bisa dibandingkan dengan otak manusia yang mampu menyimpan informasi yang mendetail dalam jangka waktu lama. Otak manusia adalah struktur yang sedemikian kecilnya.
Terimakasih atas tanggapannya. Memang betul semua materi yang diberikan belum tentu bisa menjadi LTM, namum tidak menjadi tidak mungkin dalam proses pembelajaran informasi yang diberikan tidak ada yang masuk ke LTM. Maka dari itu perlu pemilahan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami dan cara penyampaian yang tepat sehingga saat belajar bukan mengingat pelajaran melainkan memahami. Karena memahami merupakan langkah awal informasi menuju LTM
HapusBaiklah saya akan menanggapi persoalan no 2
BalasHapusMedia yang digunakan adalah media lingkungan riil. Pemilihan media lingkungan riil sebagai media, seperti yang sudah diteliti oleh Munir Tanrere dalam Journal of Applied Sciences in Environmental Sanitation (2008, Volume 3: 45- 46) melakukan penelitian tentang pembelajaran kimia berbasis masalah lingkungan, di SMA 3 Makasar . Penelitian ini mengungkapkan ternyata dengan menghubungkan pengetahuan anak dengan pengalaman langsung dengan lingkungan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran kimia.
Media lingkungan riil memiliki kelebihan secara emosional dan visual dapat memberikan makna kepada siswa tentang suatu materi pembelajaran. Informasi yang memiliki arti emosional lebih mudah diingat (Yovan P. Putra, 2008: 163). Lingkungan riil merupakan bahan-bahan atau gejala-gejala alam yang terdapat disekitar siswa yang bukan bahan-bahan laboratorium, sehingga untuk mendapatkannya tidak terlalu membutuhkan biaya yang terlalu banyak. Bahan-bahan yang ada disekitar siswa ini selanjutnya menjadi suatu pengalaman yang dapat dinamai oleh siswa, sehingga verbalisme dapat dihindari. Media lingkungan riil ini juga dapat didokumentasikan dalam bentuk gambar atau film yang selanjutnya dapat digunakan untuk media pembelajaran. Bentuk , warna dan dimensi membuat siswa senang.
Media lingkungan riil masih belum banyak digunakan oleh guru untuk mendukung keberhasilan pembelajaran. Pembuatan dan pemanfaatan media lingkungan riil yang cukup sederhana dari sisi ekonomis maupun tingkat kesulitan, apalagi dengan dibantu teknologi informasi dan komputer semakin memudahkan pembuatan dan pengembangan media lingkungan riil. Media lingkungan riil dapat dibantu dengan software presentasi powerpoint presentation yang keduanya dapat dimasukkan gambar, animasi atau video yang dapat mendukung pembelajaran yang menyenangkan.
Dan salah satu contohnya yaitu dalam materi koloid.
Terimakasih atas tanggapannya. Saya setuju dengan apa yang disampaikan saudari icha. Sedikit menambahkan, bisa dengan menyesuaikan konten materi dengan memberi contoh aoa kejadian yang lagi viral atau kiranya dekat dengan kehidupan sang anak. Selain itu bisa dengan lab virtual, salah satunya untuk materi pengujian PH maupun pembuatan senyawa asam dan basa.
HapusBaiklah saya akan menjawab pertanyaan no 3.
BalasHapusItu semua tergantung pada bagaimana guru tersebut menyampaikan materi nya.
Memotivasi murid untuk mengingat materi dengan pemahaman, bukan hanya sekedar mengingat begitu saja. Murid akan mengingat informasi dengan lebih baik dalam jangka panjang jika mereka memahami informasi, bukan sekedar hanya mengingatnya tanpa pemahaman. Pengulangan (recall) juga akan lebih baik dalam memasukkan informasi ke memori jangka pendek, tapi jika murid perlu mengambil infrmasi dair memori jangka panjang, maka strategi pengulangan ini tidak efisien. Jadi, berikanlah mereka konsep dan ide untuk diingat dan kemudian tanyakan kepada mereka bagaimana mereka dapat mengaitkan konsep dan ide itu dengan pengalaman personal dan makna personalnya. Dan beri mereka latihan untuk mengelaborasi suatu konsep agar mereka bisa memproses informasi secara mendalam .
Yap, tepat sekali. Saya setuju mengenai pendapat saudari gita bahwa pembelajaran yang baik, kuncinua adalah pemahaman. Bahaimana supaya informasi yang diberikan menjadi pemahaman? Dibutuhkanlah strategi dan teknik dalam mengajar.
Hapussaya akan menanggapi permasalahan no.3 dimana tidak semua informasi dalam pembelajaran akan disimpan dalam memori jangka panjang karena sebagai manusia tentu daya tangkap dan daya berfikirnya berbeda beda. namun hal ini bisa diatasi dengan bahasa yang menurut kita mudah dipahami yaitu suatu ringkasan materi yang dapat membantu kita dalam mengingat dalam waktu yang lama. contohnya mindmap, ini adalah sebuah catatan pikiran yang kita tuangkan dalam sebuah kertas sehingga jika kita lupa mengenai suatu pembelajaran kita cukup melihat peta catatan yang telah dibuat sehingga nantinya dapat membantu dalam mengingat jangka panjang.
BalasHapusBaiklah, saya ingin menangggapi permasalahan anda yang ketiga. Menurut pendapat saya semua pembelajaran dapat disimpan dalam jangka panjang , karena apabila informasi pembelajaran yang diterima oleh siswa dapat diterima dengan baik dan tidak membebankan pikirannya serta dilatih secara berulang-ulang.
BalasHapussaya akan menanggapi permasalahan no 3
BalasHapusdalam pembelajaran kimia ada materi koligatif larutan, dalam kehidupan sehari" pun kita sering mengalami atau melakukan menaikan suhu atau menurunkan suhu larutan..
dalam pembelajaran ini contohnya bisa saja seperti memasak air,membuat es cream, dll..
sebagai guru kita hanya perlu menjelaskan apa yang terjadi berdasarkan ilmiahnya dan menambahkan pertanyaan dan memberikan soal" serta rumus nya..
sehingga siswa akan bisa mempelajarinya di rumah.