Era Industri 4.0: Tantangan dan Peluang Perkembangan
Pendidikan Kejuruan Indonesia
Ayat tersebut menyiratkan perlunya manusia berubah. Siapapun yang
menolak perubahan pasti akan tertinggal karena perubahan adalah
suatu keniscayaan. Perubahan dapat bersifat gradual, dapat pula
bersifat sistematis. Salah satu bentuk perubahan yang paling nyata
adalah globalisasi. Interaksi antarindividu, antarkomunitas, hingga
antarbangsa terjadi dengan cepat. Para ahli menjelaskan perubahan
sebagai dimensi waktu. Dunia terhubung hanya disekat oleh batas maya.
Perubahan selalu memberikan tanda nyata dan memiliki jejak dalam
kehidupan manusia. Perubahan dalam fase kehidupan manusia ditandai
banyak hal, salah satunya adalah perubahan dalam era industri.
Revolusi Industri
Sejarah revolusi industri dimulai dari industri 1.0, 2.0, 3.0, hingga
industri 4.0. Fase industri merupakan real change dari perubahan yang
ada. Industri 1.0 ditandai dengan mekanisasi produksi untuk menunjang
efektifitas dan efisiensi aktivitas manusia, industri 2.0 dicirikan oleh
produksi massal dan standarisasi mutu, industri 3.0 ditandai dengan
penyesuaian massal dan fleksibilitas manufaktur berbasis otomasi dan
robot. Industri 4.0 selanjutnya hadir menggantikan industri 3.0 yang
ditandai dengan cyber fisik dan kolaborasi manufaktur (Hermann et al,
2015; Irianto, 2017). Istilah industri 4.0 berasal dari sebuah proyek yang
diprakarsai oleh pemerintah Jerman untuk mempromosikan
komputerisasi manufaktur.
Lee et al (2013) menjelaskan, industri 4.0 ditandai dengan
peningkatan digitalisasi manufaktur yang didorong oleh empat faktor:
1) peningkatan volume data, kekuatan komputasi, dan konektivitas;
2) munculnya analisis, kemampuan, dan kecerdasan bisnis; 3) terjadinya
bentuk interaksi baru antara manusia dengan mesin; dan 4) perbaikan instruksi transfer digital ke dunia fisik, seperti robotika dan 3D printing.
Lifter dan Tschiener (2013) menambahkan, prinsip dasar industri 4.0
adalah penggabungan mesin, alur kerja, dan sistem, dengan
menerapkan jaringan cerdas di sepanjang rantai dan proses produksi
untuk mengendalikan satu sama lain secara mandiri.
Hermann et al (2016) menambahkan, ada empat desain prinsip
industri 4.0. Pertama, interkoneksi (sambungan) yaitu kemampuan
mesin, perangkat, sensor, dan orang untuk terhubung dan
berkomunikasi satu sama lain melalui Internet of Things (IoT) atau
Internet of People (IoP). Prinsip ini membutuhkan kolaborasi, keamanan,
dan standar. Kedua, transparansi informasi merupakan kemampuan
sistem informasi untuk menciptakan salinan virtual dunia fisik dengan
memperkaya model digital dengan data sensor termasuk analisis data
dan penyediaan informasi. Ketiga, bantuan teknis yang meliputi;
(a) kemampuan sistem bantuan untuk mendukung manusia dengan
menggabungkan dan mengevaluasi informasi secara sadar untuk
membuat keputusan yang tepat dan memecahkan masalah mendesak
dalam waktu singkat; (b) kemampuan sistem untuk mendukung manusia
dengan melakukan berbagai tugas yang tidak menyenangkan, terlalu
melelahkan, atau tidak aman; (c) meliputi bantuan visual dan fisik.
Keempat, keputusan terdesentralisasi yang merupakan kemampuan
sistem fisik maya untuk membuat keputusan sendiri dan menjalankan
tugas seefektif mungkin. Secara sederhana, prinsip industri 4.0 menurut
Hermann et al (2016) dapat digambarkan sebagai berikut.
Industri 4.0 telah memperkenalkan teknologi produksi massal
yang fleksibel (Kagermann et al, 2013). Mesin akan beroperasi secara
independen atau berkoordinasi dengan manusia (Sung, 2017). Industri
4.0 merupakan sebuah pendekatan untuk mengontrol proses produksi
dengan melakukan sinkronisasi waktu dengan melakukan penyatuan
dan penyesuaian produksi (Kohler & Weisz, 2016). Selanjutnya, Zesulka
et al (2016) menambahkan, industri 4.0 digunakan pada tiga faktor yang
saling terkait yaitu; 1) digitalisasi dan interaksi ekonomi dengan teknik
sederhana menuju jaringan ekonomi dengan teknik kompleks;
2) digitalisasi produk dan layanan; dan 3) model pasar baru. Baur dan
Wee (2015) memetakan industri 4.0 dengan istilah “kompas digital”.
Permasalahan:
1. Apa yang harus dilakukan mahasiswa menyikapi revolusi industri 4.0?
2. Apakah hubungan multimedia dengan revolusi ini? Jelaskan secara garis besar saja!
3. Apakah revolusi imi sebuah tuntutan atau menjadi sebuah gebrakan?
yang fleksibel (Kagermann et al, 2013). Mesin akan beroperasi secara
independen atau berkoordinasi dengan manusia (Sung, 2017). Industri
4.0 merupakan sebuah pendekatan untuk mengontrol proses produksi
dengan melakukan sinkronisasi waktu dengan melakukan penyatuan
dan penyesuaian produksi (Kohler & Weisz, 2016). Selanjutnya, Zesulka
et al (2016) menambahkan, industri 4.0 digunakan pada tiga faktor yang
saling terkait yaitu; 1) digitalisasi dan interaksi ekonomi dengan teknik
sederhana menuju jaringan ekonomi dengan teknik kompleks;
2) digitalisasi produk dan layanan; dan 3) model pasar baru. Baur dan
Wee (2015) memetakan industri 4.0 dengan istilah “kompas digital”.
Permasalahan:
1. Apa yang harus dilakukan mahasiswa menyikapi revolusi industri 4.0?
2. Apakah hubungan multimedia dengan revolusi ini? Jelaskan secara garis besar saja!
3. Apakah revolusi imi sebuah tuntutan atau menjadi sebuah gebrakan?

Saya akan menjawab permasalahan Anda yang pertama dimana mahasiswa harus siap dengan teknologi-teknologi terbaru Dan akan lebih canggih, harus kritis dalam mehadapi segala sesuatunya nanti Dan haRus kreatif dan inovatif di kesehariannya
BalasHapusBaiklah disini saya akan menambahkan sedikit dari jawaban desi, hal yg harus dilakukan mahasiswa yaitu menelaah mana yg baik dan mana yg tidak baik dari perkembangan zaman, selain itu mahasiswa jg harus siap menerima perkembangan zaman tersebut
HapusSaya akan menanggapi permasalahan no. 1 seperti yang kita ketahui Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak. Tantangan tersebut harus dihadapi sesuai pola kerja baru yang tercipta dalam revolusi 4.0. Salah satu faktor yang penting dan harus dipersiapkan mahasiswa adalah keterampilan dan kompetensi yang harus tetap secara konsisten ditingkatkan,
BalasHapusLembaga pendidikan harus mampu menghasilkan lulusan yang berkarakter, kompeten, dan inovatif. Selain unggul di bidang akademik, generasi saat ini juga harus berdaya saing tinggi. Persaingan di luar dana sangat ketat, apalagi sekarang sudah memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN
Baiklah, saya ingin menangggapi permasalahan anda yang pertama. Menurut pendapat saya sebagai mahasiswa harus menjadi live long leaner atau menjadi pembelajar yang belajar seumur hidup. Artinya mahasiswa harus terampil, terus belajar dengan hal-hal baru, prinsip live long leaner diyakini mampu menjawab perkembangan zaman dan teknologi digital yang terus berkembang pesat. Selain itu, keterampilan dan inovasi akan bisa mencetak lulusan perguruan tinggi yang handal dan bisa bersaing secara nasional maupun internasional.
BalasHapussaya akan menanggapi permasalahan no 3 dimana apakah revolusi ini sebuah tuntutan atau menjadi sebuah gebrakan?
BalasHapusmenurut saya ini adalah tunutan , teknologi akan masuk dalam segala aspek termasuk tuntutan efisiensi dan kecanggihan produksi. pemerintah berharap perilaku industri dapat beradaptasi pada era revolusi ke 4.0 ini .
industri 4.0 merupakan era industri dimana aktivitas produksi bakal banyak ditopang teknologi-teknologi komputasi, jaringan internet, sensor robotik, sampai 3D Printing. Sehingga teknologi itu makin menjadi tuntutan karena sejumlah negara maju sudah menerapkannya. sebut saja amerika, eropa, jepang, dan tiongkok.
saya ingin mencoba menjawab pertanyaan nomor 3, menurut saya itu merupakan tuntutan dari perkembangan teknologi yang ada . Jadi semakin lama maka perkembangan dibidang teknologi dan lain-lainnya akan menjadi hal yang nyata. sehingga mau tidak mau semua orang harus menyesuaikan diri dengan perkembangan tersebut.
BalasHapus