PRINSIP-PRINSIP
PEMBUATAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN
Membuat multimedia pembelajaran tidak
bisa sembarangan asal jadi, namun harus direncanakan dan memperhatikan beberapa
prinsip berikut ini:
1)
Mudah
mendapatkan bahan bakunya, diutamakan yang ada di sekitar lingkungan tempat
tinggal peserta didik atau sekitar sekolah.
2)
Murah bahan
bakunya sehingga terjangkau oleh peserta didik, pendidik, atau sekolah untuk
menyediakannya dan membuatnya. Bahan-bahan tersebut bisa memanfaatkan
benda-benda bekas/sisa, lalu didaur ulang. Sekaligus menanamkan rasa mencintai
kebersihan lingkungan pada peserta didik. Bahan “un use” adalah barang-barang
bekas atau tidak terpakai, namun masih bisa dimanfaatkan, misalnya untuk
membuat multimedia pembelajaran. Barang-barang itu seperti kaleng, koran, buku,
majalah, besi, kawat, paku, potongan kayu, dan sebagainya.
3)
Multi guna atau
manfaatnya banyak. Multimedia pembelajaran sebaiknya bisa digunakan tidak hanya
untuk menjelaskan satu materi pembelajaran, melainkan banyak materi
pembelajaran. Selain itu, juga bisa digunakan sebagai alat bermain untuk
mengembangkan aktivitas dan kreativitas peserta didik.
4)
Menimbulkan
kreativitas peserta didik. Multimedia pembelajaran hendaknya membuat peserta
didik menjadi senang dalam belajar dan mengembangkan daya khayal atau
imajinasinya sehingga mereka dapat bereksperimen dan bereksplorasi.
5)
Menarik
perhatian, sehingga peserta didik berminat untuk menggunakannya dan mendapatkan
pemahaman dari materi pembelajaran yang disampaikan melalui multimedia
pembelajaran tersebut.
6)
Menggunakan
bahan yang tidak membahayakan bagi peserta didik atau pendidik. Misalnya, bahan
yang mengandung zat kimia. Misalnya, pada multimedia pembelajaran di Taman
Kanak-Kanak (TK) yang terbuat dari kayu, bahan cat yang digunakannya harus
antitoxid, sehingga jika kayu itu tergigit oleh peserta didik tidak akan
membahayakan, karena tidak mengandung racun.
7)
Menggunakan
multimedia pembelajaran tersebut bisa secara individual, kelompok, atau
klasikal.
8)
Menyesuaikan
dengan tingkat perkembangan peserta didik, baik fisik, mental, atau pikirannya.
PRINSIP-PRINSIP
PENGGUNAAN MULTIMEDIA PEMBELAJARAN
Menggunakan multimedia
pembelajaran dalam proses pembelajaran hendaknya memperhatikan hal-hal berikut
ini:
1)
Sesuai dengan
tujuan dan materi pembelajaran yang tercantum dalam garis-garis program
pembelajaran yang telah ditentukan dalam kurikulum yang berlaku di sekolah.
2) Memberikan
pengertian dan penjelasan tentang suatu konsep.
3) Mendorong
kreativitas peserta didik, dan memberikan kesempatan peserta didik untuk
bereksperimen dan bereksplorasi (menemukan sendiri).
4) Memenuhi unsur kebenaran dalam ukuran,
ketelitian, dan kejelasan untuk menghindari kesalahan pengertian tentang
sesuatu yang digambarkan atau dijelaskan melalui multimedia pembelajaran
tersebut. Misalnya menjelaskan bentuk suatu binatang, maka ukuran,
bagian-bagian, proporsi tubuhnya, dan sebagainya hendaknya sesuai dengan
keadaan yang sebenarnya. Oleh karena itu seorang pendidik sebaiknya pintar
menggambar. Namun jika tidak terampil menggambar bisa memanfaatkan gambar dari
berbagai sumber lainnya yang dimodifikasi sendiri oleh pendidik sehingga
menjadi suatu materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik.
5) Multimedia
pembelajaran harus aman dan tidak membahayakan peserta didik atau pendidik.
Misalnya, tidak mengandung zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan, atau bahan
multimedia pembelajaran tersebut tajam dan membahayakan. Begitu pula dalam
pembuatan multimedia pembelajara itu harus rapi agar tidak ada bagian yang
membahayakan.
6) Multimedia
pembelajaran menarik, menyenangkan, dan tidak membosankan bagi peserta didik
untuk menggunakannya. Oleh karena itu dalam penggunaan multimedia pembelajaran
hendaknya bervariasi atau beraneka ragam (multi multimedia pembelajaran),
karena setiap multimedia pembelajaran tentu ada kelebihan dan kekurangannya.
Kekurangan satu multimedia pembelajaran ditutupi oleh kelebihan multimedia
pembelajaran lainnya, dan sebaliknya, kelebihan satu multimedia pembelajaran
menutupi kekurangan multimedia pembelajaran lainnya. Dengan demikian, tidak ada
istilah multimedia pembelajaran yang jelek atau yang baik. Kalau pun ada
istilahnya adalah ketepatan penggunaan multimedia pembelajaran dengan suatu
materi pembelajaran yang akan disajikan.
7) Memenuhi unsur keindahan dalam bentuk, warna dan
kombinasinya, serta rapi pembuatannya.
8) Mudah
digunakan, baik oleh pendidik maupun oleh peserta didik.
9) Penggunaan multimedia pembelajaran dalam suatu
proses pembelajaran tidak sekaligus dipertunjukkan kepada peserta didik
melainkan bergantian sesuai dengan materi pembelajaran yang dijelaskan. Jika
ditunjukan sekaligus, maka perhatian peserta didik bukan pada materi
pembelajaran melainkan pada multimedia pembelajarannya, sehingga pembelajaran
tidak akan berhasil.
10) Multimedia pembelajaran yang digunakan merupakan
bagian dari materi pembelajaran yang sedang dijelaskan bukan sebagai selingan
atau alat hiburan.
11) Peserta didik mempunyai tanggung jawab dalam
menggunakan multimedia pembelajaran, sehingga mereka akan merawat dan
menyimpannya kembali dengan keadaan utuh pada tempat yang telah ditentukan.
12) Multimedia pembelajaran lebih banyak berisikan
materi pembelajaran yang mengandung pesan positif dibandingkan dengan yang
negatif. Misalnya multimedia pembelajaran komik sebaiknyan banyak gambar yang
menunjukkan pesan positif, karena dengan pesan positif itu akan ditiru oleh
peserta didik. Jika suatu multimedia pembelajaran banyak pesan negatifnya, maka
itupun akan ditiru oleh peserta didik, malahan hal negatif ini biasanya lebih
cepat diterima peserta didik.
Berdasarkan studi empiris
menggunakan basis CLT, Mayer mengemukakan beberapa prinsip
multimedia (Clarck & Mayer, 2003),
yaitu : (1) prinsip multiple
representation (multimedia
principle), (2) prinsip
keterhubungan (contiguity
principle), (3) prinsip modalitas (modality
principle), (4) prinsip penandaan (signaling
principle), dan (5) prinsip interaktivitas (interactivity principle). Prinsip yang dikemukakan Mayer mempunyai
keselarasan dengan 3 faktor yang berpengaruh ada extraneous
cognitif load di atas, namun pencermatan
perlu diberikan pada redudancy effect yang
bisa berseberangan dengan prinsip yang lain, seperti prinsip multiple presentation, Penggunaan prinsip-prinsipmultimedia ini telah menunjukkan kontribusi yang signifikan dalam pembelajaran
(Gable, 1998; Stieff, 2005).
Pada dasarnya multimedia pembelajaran sangat
diperlukan dalam upaya mengaktifkan kegiatan belajar peserta didik. Namun bukan
berarti multimedia pembelajaran itu selalu harus bersifat canggih dan
pengadaannya memerlukan dana yang cukup besar. Untuk itu, diperlukan
kreativitas pendidik dalam memanfaatkan sumber daya yang tersedia di lingkungan
sekitarnya, meskipun tidak tersedia di sekolah tersebut. Di samping itu, jika
suatu multimedia pembelajaran perlu ada, pendidik pun dapat bekerja sama dengan
peserta didik untuk pengadaannya, dengan memanfaatkan bahanbahan yang sederhana
yang tersedia atau dapat dengan mudah didapatkan.
Penggunaan multimedia pembelajaran (termasuk di
dalamnya sumber belajar, dan alat-alat pelajaran) untuk membantu kegiatan
belajar seharusnya disesuaikan dengan isi atau materi pembelajaran dan tujuan
yang hendak dicapai. Di samping kesesuaian tersebut, faktor-faktor yang perlu
dipertimbangkan adalah:
Waktu yang tersedia dan yang dibutuhkan untuk
belajar menggunakan multimedia pembelajaran tersebut. Betapapun baiknya
multimedia pembelajaran yang tersedia dan dapat digunakan, jika penggunaannya
memerlukan waktu yang tidak sesuai dengan waktu yang tersedia dapat mengganggu
keberhasilan belajar. Oleh karena itu, perlu dipilih multimedia pembelajaran
yang dapat membantu proses pembelajaran, namun waktu yang dibutuhkan untuk
menggunakannya sesuai dengan waktu yang tersedia.
Kecakapan pendidik maupun peserta didik menggunakan
dan multimedia pembelajaran. Setiap bentuk multimedia pembelajaran menuntut
kecakapan tertentu dalam menggunakannya. Sumber belajar dan multimedia
pembelajaran tersebut dapat bermanfaat untuk membantu kegiatan pembelajaran,
jika yang menggunakannya mempunyai kecakapan atau kemampuan.
Dana yang tersedia untuk pengadaan
multimedia pembelajaran yang diperlukan. Masalah dana seringkali mempengaruhi
penyelengaraan pendidikan di sekolah pada umumnya, terutama memberi pengaruh
terhadap pengadaan multimedia pembelajaran yang diperlukan. Disadari, bahwa
tidak semua yang dibutuhkan itu tersedia di sekolah. Untuk itu pendidik
seringkali menghadapi masalah pengadaan multimedia pembelajaran karena tidak
adanya dana. Namun demikian kreativitas pendidik seringkali mengatasi pengadaan
sumber belajar dan multimedia pembelajaran, meskipun pengadaan itu bersifat
sederhana namun dalam batas kemampuannya.
PERMASALAHAN
PERMASALAHAN
1. Multimedia digunakan untuk menjawab kesulitan peserta didik dalam memahami sesuatu yang belum pernah dilihat, diketahui, maupun yang sudah diketahui untuk menjadi lebih tahu. Untuk itu dibutuhkan media yang tepat untuk menjawabnya. Namun, ada suatu maslah belajar siswa yang sering terjadi namun kadang tak ditinjau lebih lanjut yaitu Slow Learner atau lambat belajar. Bagaimanakah multimedia menjawab permasalahan di atas?
2. Pembelajaran akan lebih menarik dengan visualisasi yang baik. Namun, design yang buruk akan menyebabkan kebingungan atau lebih buruk salah konsep apa yang disampaikan dengan yang ditangkap. Oleh karena itu dibutuhkan spesifikasi komputer yang lebih memadai karena multimedia identik dengan komputer. Bagaimana cara guru mencegah permasalahan di atas dengan multimedia pembelajaran yang menarik dan tak membuat salah konsep oleh siswa?
3. Bates (1995) menekankan bahwa diantara media-media lain interaktivitas multimedia atau media lain yang berbasis komputer adalah yang paling nyata (overt). Interaktivitas nyata di sini adalah interaktivitas yang melibatkan fisik dan mental dari pengguna saat mencoba program multimedia. Interaksi seperti apa yang diharapkan terjadi dalam proses belajar oleh peserta didik dari pernyataan di atas?
Sepengetahuan saya media yg biasa dikatakn efektif yaitu media ppt. Krna bersifat multimedia.. dan bisakah berikan cntoh multimedia yg efektif dn ekonomis selain ppt..
BalasHapusMultimedia adalah suatu sarana (media) yang didalamnya terdapat perpaduan (kombinasi) berbagai bentuk elemen informasi, seperti teks, graphics, animasi, video, interaktif maupun suara sebagai pendukung untuk mencapai tujuannya yaitu menyampaikan informasi atau sekedar memberikan hiburan bagi target audiens-nya.Multimedia dapat disajikan dalam beberapa metode, antara lain :
Hapus- Berbasis kertas (Paper-based), contoh : buku, majalah, brosur.
- Berbasis cahaya (Light-based), contoh : slideshows, transparansi.
- Berbasis suara (Audi-based), contoh : CD Players, tape recorder, radio.
- Berbasis gambar bergerak (Moving-image-based), contoh : televisi, VCR (Video Cassete Recorder, film.
- Berbasis Digital (Digilatally-based), contoh : komputer.
Menurut anda apakah multimedia presentasi cocok untuk semua materi pembelajaran? Bagaimana jika materi yang akan kita sampaikan bersifat menghitung, apakah multimedia presentasi masih efektif untuk digunakan?
BalasHapusPrinsip Penggunaan multimedia pembelajaran (termasuk di dalamnya sumber belajar, dan alat-alat pelajaran) untuk membantu kegiatan belajar, seharusnya disesuaikan dengan isi atau materi pembelajaran dan tujuan yang hendak dicapai. Untuk materi hitungan jika dirasa minat anak atau dengan cara manual anak bisa memahami logika hitung2an,maka media yg digunakan tidak perlu menggunakan metode persentasi. Namun bukan berarti multimedia tidak digunakan untuk materi yg bersifat hitungan, seperti penurunan rumus yg amat panjang dan sitematis bisa menjadi lebih efektif dengan metode presentasi yg menarik ketimbang metode menulis di papan tulis. Zaman sekarang juga banyak sekali multimedia yg sangat membantu anak dalam memahami materi eksakta karena cara penyelesaiannya yg lebih singkat, lebih berwarna dan menarik, dan sistematis dengan arah anak panah yg diberikan.
HapusPembuatan media pembelajaran diperlukan untuk proses pelaksanaan pembelajaran dan proses berpikir siswa. Coba anda sebutkan manfaat positif dari penggunaan media
BalasHapussebagai bagian integral pengajaran di kelas itu apa saja?
Terimakasih atas kunjungannya. dijelaskan dalam Encyclopedia of Educational Research dalam Oemar Hamalik (1994: 15), merinci manfaat media pengajaran sebagai berikut:
HapusMeletakkan dasar-dasar yang konkrit untuk berfikir, oleh karena itu mengurangi verbalisme.
Memperbesar perhatian siswa.
Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan belajar, sehingga memuat pelajaran lebih mantap.
Memberikan pengalaman nyata yang dapat menumbuhkan kegiatan berusaha sendiri dikalangan siswa.
Menumbuhkan pemikiran yang teratur dan kontinyu terutama melalui gambar hidup.
Membantu timbulnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan bahasa.
Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain dan membantu efisiensi dan keragaman yang banyak dalam belajar.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan bahwa media sangat berperan penting dalam sebuah proses pembelajaran, sehingga penyaluran informasi atau materi yang di sampaikan guru terhadap siswa dapat mudah diterima. Intinya manfaat dari media itu sendiri sangat berhubungan erat dengan prinsip dibuatnya multimedia seperti yang telah disebutkan di atas
Memvisualisasikan ide atau gagasan baik yang berbentuk verbal maupun visual merupakan suatu hal yang sangat penting karena dalam ide maupun gagasan adalah sesuatu yang bersifat abstrak.
BalasHapusVisualisasi ide adalah merekayasa bentuk fisik dari suatu rancangan yang telah tersusun di dalam pikiran seseorang yang bertujuan agar suatu ide dapat divisualisasikan agar ide yang dimaksud dapat disampaikan dengan tepat dan sesuai dengan tujuan penyampaian pesan. Sedangkan teknik visualisasi ide adalah cara seseorang dalam menuangkan ide ke dalam bentuk yang lebih nyata baik dalam bentuk verbal maupun visual.
Dalam teknik memvisualisasikan ide sangat penting memperhatikan tahapan-tahapan diantaranya melakukan perencanaan sebelum proses pembelajaran lalu diikuti dengan mendesain ilustrasi visual untuk proses belajar mengajar, selanjutnya mengubah isi informasi verbal menjadi nonverbal dan yang terakhir adalah Penggunaan media dalam presentasi pesan dan ilmu pengetahuan seperti penggunaan media berbasis ICT dalam pembelajaran.
Terimakasih atas argumennya. Saya ingin sedikit menambahkan bahwa visualisasi yang digunakan haruslah tidak berlebihan seperti penambahan animasi yg tidak perlu dan tidak membuat kreatifitas anak muncul dalam proses pembelajaran. Multimedia yg digunakan juga harus Memenuhi unsur keindahan dalam bentuk, warna dan kombinasinya, serta rapi pembuatannya. Dan tadi anda ada membahas mengenai Media pembelajaran berbasis ICT (information communications technologies). Saya setuju dengan argumen anda mengenai ICT yg merupakan media Pembelajaran berbasis ICT adalah alat yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi informasi. Dalam sistem ini interaksi antara pengajar (guru) dan peserta (murid) ajar tidak harus saling bertatap muka (bertemu) secara fisik seperti halnya dalam sistem pendidikan konvensional, mereka bertemu dalam ruang teknologi informasi (internet) dengan memanfaatkan suatu media yang disebut komputer. Dengan kata lain media ini sangat membantu guru dan siswa dalam proses belajar dan mengajar. Namun guru perlu mengarahkan juga,situs apa yg bagumedia Pembelajaran berbasis ICT adalah alat yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi informasi. Dalam sistem ini interaksi antara pengajar (guru) dan peserta (murid) ajar tidak harus saling bertatap muka (bertemu) secara fisik seperti halnya dalam sistem pendidikan konvensional, mereka bertemu dalam ruang teknologi informasi (internet) dengan memanfaatkan suatu media yang disebut komputer. Namun, dalam pelaksanaannya sangat perlu saran/rekomendasi dari guru situs apa yg baik dan konkret untuk belajar siswa, sehingga belajar menjadi lebih terarah.
HapusAnak lamban belajar (slow learner) merupakan anak yang memiliki potensi intelektual sedikit di bawah normal, tetapi tidak termasuk anak tunagrahita (biasanya memiliki IQ sekitar 80 – 85). Dalam beberapa hal anak ini mengalami hambatan atau keterlambatan berpikir, merespon rangsangan dan kemampuan untuk beradaptasi, tetapi lebih baik dibanding dengan tunagrahita. Mereka membutuhkan waktu belajar lebih lama dibanding dengan sebayanya. Sehingga mereka memerlukan layanan pendidikan khusus.
BalasHapusMasalah-masalah yang mungkin bisa jadi penyebab anak lambat belajar antara lain karena masalah konsentrasi, daya ingat yang lemah, kognisi, serta masalah sosial dan emosional. Kecerdasan mereka memang di bawah rata-rata, tetapi mereka bukan anak yang tidak mampu, tetapi mereka butuh perjuangan yang keras untuk menguasai apa yang diminta di kelas reguler. Dalam menghadapi permasahan anak slow learn akan sangat dipengaruhi oleh pendididk yang memberikan materi ajar dan media yang digunakan.
Untuk mengatasi anak yang lamban belajar maka diperlukan metode belajar yang tepat bagi slow learner atau anak lamban belajar, yaitu :
1. Pahami bahwa anak membutuhkan lebih banyak pengulangan, 3 sampai 5 kali, untuk memahami suatu materi daripada anak lain dengan kemampuan rata-rata. Maka, dibutuhkan penguatan kembali melalui aktivitas praktek dan yang familiar, yang dapat membantu proses generalisasi.
2. Anak slow-learner yang tidak berprestasi dalam akademik dasar dapat memperoleh manfaat melalui kegiatan tutorial di sekolah atau privat. Tujuan tutorial bukanlah untuk menaikkan prestasinya, tetapi membantunya untuk optimis terhadap kemampuannya dan menghadapkannya pada harapan yang realistik dan dapat dicapainya.
3. Adalah masuk akal dan dapat dibenarkan untuk memberi mereka kelas yang lebih singkat dan tugas yang lebih sederhana.
4. Berusahalah untuk membantu anak membangun pemahaman dasar mengenai konsep baru daripada menuntut mereka menghafal materi dan fakta yang tidak berarti bagi mereka.
5. Gunakan demonstrasi dan petunjuk visual sebanyak mungkin. Jangan membingungkan mereka dengan terlalu banyak verbalisasi. Pendekatan multisensori juga dapat sangat membantu.
6. Jangan memaksa anak bersaing dengan anak dengan kemampuan yang lebih tinggi. Adakan sedikit persaingan dalam program akademik yang tidak akan menyebabkan sikap negatif dan pemberontakan terhadap proses belajar. Belajar dengan kerjasama dapat mengoptimalkan pembelajaran, baik bagi anak yang berprestasi atau tidak, ketika pemebelajaran tersebut mendukung interaksi sosial yang tepat dalam kelompok yang heterogen.
7. Konsep yang sederhana yang diberikan pada anak pada permulaan unit instruksial dapat membantu penguasaan materi selanjutnya. Maka, dibutuhkan beberapa modifikasi di kelas.
8. Anak sebaiknya diberi tugas, terutama dalam pelajaran sosial dan ilmu alam, yang terstruktur dan konkret. Proyek-proyek besar yang membutuhkan matangnya kemampuan organisasional dan kemampuan konseptual sebaiknya dikurangi, atau secara substansial dimodifikasi, disesuaikan dengan kemampuannya. Dalam kerja kelompok, slow-learner dapat ditugaskan untuk bertanggung jawab pada bagian yang konkret, sedang anak lain dapat mengambil tanggung jawab pada komponen yang lebih abstrak.
9. Tekankan hal-hal setelah belajar, berikan insentif dan motivasi yang bervariasi.
10. Berikan banyak kesempatan bagi anak untuk bereksperimen dan mempraktikkan konsep baru dengan materi yang konkret atau situasi yang menstimulasi.
11. Pada awal setiap unit, kenalkan anak dengan materi-materi yang familiar.
12. Sederhanakan petunjuk dan yakin bahwa petunjuk itu dapat dimengerti.
13. Penting bagi guru untuk mengetahui gaya belajar masing-masing anak, ada yang mengandalkan kemampuan visual, auditori atau kinestetik. Pengetahuan ini memudahkan penerapan metode belajar yang tepat pada mereka.
14. Gunakan media yang dapat membuat anak merasa senang serta tidak terbebani oleh materi yang diajarkan.
Terimakasih untuk argumennya. Menarik, namun saya ingin sedikit menambahkan untuk anak dalam kasus ini saya rasa dapat digunakan media pembelajaran yg dikombinasikan dengan metode pembelajaran koeperatif. Anak lamban belajar biasanya dilabel sebagai anak bodoh (borderline mentally
Hapusretarded) dan Sangeeta Malik menyebut (2009: 61) “they are generally slower to ‘catchon’ to whatever is being taught if it involves symbolic, abstract or conceptual subject
matter”. Selanjutnya, Sangeeta mengemukakan bahwa mereka juga memiliki
karakteristik kurang konsentrasi, kurang bertahan dalam berpikir abstrak. Hal itu
berakibat kesulitan untuk mencapai hasil belajar sesuai dengan capaian kelompok usia
sebaya. Karakteristik belajar yang lambat itulah sebagai ciri khusus dari siswa lamban
belajar, khususnya lambat belajar untuk bidang yang membutuhkan simbol dan daya
abstraksi. Untuk itu, siswa lamban belajar sering lebih berprestasi di bidang-bidang non-
akademis dari mata pelajaran di sekolah. Hal tersebut berimplikasi bahwa mereka
membutuhkan model pembelajaran dengan mediasi sumber belajar yang lebih konkrit.
Hal itu juga telah terdukung oleh penelitian sebelumnya, salah satunya yang ditulis oleh
Sugapriya G & Ramachandran C (2011: 949) bahwa model animasi dengan komputer
sebagai strategi yang tepat untuk pembelajaran bagi siswa lamban belajar. Demikian
juga penelitian yang mengemukakan bahwa peningkatan akademik bagi siswa lamban
belajar dapat ditingkatkan, jika dalam pembelajaran dengan cara mengembangkan
seluruh keterampilan indera.
Bentuk-bentuk penanganan atau tindakan yang sudah diusahakan oleh guru
antara lain: 1) memanfaatkan potensi lain dari anak SL untuk membangkitkan motivasi
belajar; 2) mempergunakan buku dan sumber belajar lain yang memudahkan belajar
bagi anak SL; 3) menggunakan media-media gambar agar mempermudah belajar anak
SL; 4) menjelaskan secara lisan dan berulang; 5) memberikan contoh dengan peragaan;
6) menggunakan media yang dapat disentuh atau diraba; 7) bertanya langsung kepada
anak SL untuk memastikan pemahaman yang dapat ditangkap; 8) memanggil nama
anak agar memperhatikan; 9) memperbolehkan anak SL menggunakan alat bantu;
10)mendorong siswa lainnya untuk membantu; 11) memastikan perhatian anak;
12)menempatkan anak SL duduk di urutan depan; 13)memberikan pengulangan ketika
menjelaskan materi; 14)memberikan tambahan jam pelajaran di luar jam pelajaran
efektif; 15)mempersilahkan ke luar kelas untuk mendapatkan remedi dari guru khusus;
16)memberikan pekerjaan rumah yang lebih mudah dibanding dengan siswa lainnya;
17)pengurangan tugas bagi siswa SL dibanding dengan siswa lainnya; 18) memberikan
soal yang lebih mudah kepada siswa SL; 19)memberikan bantuan kepada siswa SL
ketika mengerjakan tugas; 20)bantuan membacakan; 21)bantuan menuliskan;
22)pemberian waktu yang lebih banyak kepada siswa SL dibanding dengan siswa
lainnya ketika mengerjakan tugas; 23)menyediakan tempat terpisah dari siswa lainnya;
24)memberikan tugas yang dapat dikoreksi oleh siswa SL sendiri; 25)memberikan tugas
secara bergradasi dari mulai tingkat amat mudah ke yang tingkat sulit; 26) meminta
orang tua agar lebih memperhatikan belajar putranya; dan 27) berkonsultasi dengan ahli
terkait.
Tindakan-tindakan yang bervariasi itu yang lebih sering dilakukan yaitu:
memanfaatkan potensi lain dari siswa SL; mempergunakan buku dan sumber belajar
yang mempermudah belajar siswa SL; menggunakan media gambar-gambar;
menjelaskan secara lisan; memberikan contoh dengan peragaan; serta menggunakan
media atau alat peraga yang mudah disentuh. Tindakan itu yang paling mudah dan
sering dilakukan oleh guru adalah memanggil nama anak yang kategori SL agar supaya
ada perhatian, dan sebaliknya yang jarang dilakukan ialah memberikan tugas yang dapat
dikoreksi sendiri oleh siswa SL dan memperbolehkan menggunakan alat bantu
komputer atau kalkulator.
Menanggapi permasalah pada no.2 Seorang guru memang harus benar-benar paham dalam pengaplikasian dari berbagai perangkat komputer yang akan digunakannya sebagai perantara dalam bahan ajar yang akan disampaikan. Namun, pada umumnya masih banyak guru- guru kurang tahu cara menggunakan komputer yang membuatnya tidak tahu cara mendesign suatu media. Cara mengatasi masalah tersebut, bagi guru yang kurang bisa mendesign suatu media dengan baik yang berbasis komputer dapat terlebih dahulu melakukan kursus komputer. Agar mengurangi design yang buruk yang menyebabkan siswa kebingungan dalam proses pembelajaran.
BalasHapusMenurut saya, sebaiknya pada saat calon guru dalam masa pelatihan atau sedang dalam masa kuliah sudah harus diberikan pembekalan agar dapat menggunakan multimedia dengan baik sehingga saat akan mengajar tidak perlu lagi untuk kursus karena hal itu kurang efisien baik dari segi waktu maupun biaya
HapusTerimakasih atas pendapatnya. Benar yg dikatakan saudari mutia bahwa guru perlu masa pelatihan. Ada istilah diklat dan MGMP dimana para guru dibidang yang sama berkumpul di jam luar pembelajaran dari berbagai sekolah,saling sharing, yang tak lain ada berupa cara membuat multimedia interaktif, penyesuaian materi dengan lingkungan sekitar,dan bagaimana cara meningkatkan minat belajar siswa dari berbagai pengalaman dari guru2 yg berbeda.
Hapussaya akan menanggapi permasalahan no 1
BalasHapusMetode yang dilaksanakan dalam pembelajaran dengan slow learner tersebut adalah sama dengan metode yang telah direncanakan dalam RPP pun dalam pemberian materi antara anak slow leaner dengan anak normal isi materi sama, yang membedakan hanya pada penyampaian materi tersebut. RPP mengacu pada buku guru tematik kurikulum 2013 yang dibuat berkelompok dengan guru lain dalam satu gugus. Seluruh komponen
pembelajaran yang tercantum dalam RPP (media, metode, penilaian, sumber, materi, strategi) untuk anak lamban belajar adalah sama dengan peserta didk lainnya. Sedangkan untuk menganalisis karakteristik anak lamban belajar, guru melakukan
komunikasi individual secara intensif dan berdasar pada evaluasi proses pembelajaran.
Guru dalam memilih metode pembelajaran di sekolah inklusi bukan hanya
mempertimbangkan aspek kesesuaian dengan materi pelajaran dan tujuan pembelajaran
melainkan juga mempertimbangkan aspek perbedaan karakteristik peserta didik serta
perbedaan karakteristik belajar dari peserta didik. Peserta didik memiliki karakteristik
yang berbeda-beda, baik minat, bakat, kebiasaan, motivasi, situasi sosial,lingkungan keluarga dan harapan terhadap masa depan. Perbedaan peserta didik dari aspek psikologis seperti sifat pendiam superaktif, tertutup, terbuka, periang, pemurung bahkan ada yang menunjukkan prilaku-prilaku yang sulit untuk dikenal. Semua perbedaan tadi akan berpengaruh terhadap penentuan metode pembelajaran.
Terimakasih untuk tanggapannya, mengenai anak slow learner saya rasa media yang tepat bisa dengan e-learning. Sehingga peserta didik dapat mengakses kembalo materi yang masih belum mengerti dan bisa berinteraksi dengan pendidik mengenai materi yang belum di mengerti. Ataupun ingin menggunakan media yang lain, sajikanlah materi yang kiranya tidak terlalu berat bagi anak yang kategori slow learner, dan menengah bagi anak yang memiliki daya tangkap yang bagus sehingga menghindari kejenuhan dan tidak mendeskriminasi.
Hapussaya akan menanggapi pertanyaan no 1.
BalasHapuseknologi multimedia ini, juga dapat digunakan dalam mengembangkan Computer Assisted Learning (CAL). Computer Assisted Learning (CAL) adalah perangkat lunak pendidikan yang diakses melalui komputer dan meru-pakan bentuk pembelajaran yang menempatkan komputer sebagai “dosen”. Dengan CAL, kata Widyo, proses belajar bisa berlangsung secara individu dan mampu mengadopsi perbedaan individu peserta didik. Karena pada intinya CAL merupakan media ganda yang terintegrasi yang dapat menyajikan suatu paket ajar yang berisi komponen visual dan suara secara bersamaan. CAL juga mempunyai komponen inlelegensi yang membuat program CAL bersifat interaktif dan mampu memroses data atau memberi jawaban bagi pengguna.CAL bersifat interaktif artinya programnya lebih bermakna diban-dingkan dengan program pembelajaran yang disajikan lewat media lainnya. CAL juga menggunakan multimedia yaitu sistem komputer yang meng-gabungkan audio dan video untuk menghasilkan aplikasi interaktif dengan menggunakan teks, suara dan gambar.
Terimakasihbatas tanggapannya. Saya sangat terbantu dengan ulasan anda karena CAL tak hanya bisa sebagai sarana untuk anak slow learner melainkam bisa juga untuk mengatasi permasalahan saya yang kedua.
HapusGuru dalam memilih metode pembelajaran di sekolah inklusi bukan hanya
BalasHapusmempertimbangkan aspek kesesuaian dengan materi pelajaran dan tujuan pembelajaran
melainkan juga mempertimbangkan aspek perbedaan karakteristik peserta didik serta
perbedaan karakteristik belajar dari peserta didik. Peserta didik memiliki karakteristik
yang berbeda-beda, baik minat, bakat, kebiasaan, motivasi, situasi sosial,lingkungan keluarga dan harapan terhadap masa depan. Perbedaan peserta didik dari aspek psikologis seperti sifat pendiam superaktif, tertutup, terbuka, periang, pemurung bahkan ada yang menunjukkan prilaku-prilaku yang sulit untuk dikenal.
saya ingin mencoba menanggapi permasalhan kedua saudari mengenai "Bagaimana cara guru mencegah permasalahan di atas dengan multimedia pembelajaran yang menarik dan tak membuat salah konsep oleh siswa" sebelum membuat ultimedia ada baiknya kita melakukan identifikasi mengenai karakter siswa dan karakter materinya, dalam membuat multimedia akan lebih baik menambahkan animasi supaya anak tidak osan tetapi akan lebih baik animasi yang dipakai adalah animasi yang sesuai dengan materi agar siswa tidak kehilangan fokus
BalasHapussaya akan menanggapi permasalahan no 1 bagaimana multimedia menanggapi anak yang lambat belajar. tentu dengan adanya multimedia atau alat yang dapat membantu kita memberikan pelajaran kepada siswa dapat mengatasi anak yang slow respon ini atau yang lambat belajar. misalkan saja dalam suatu ppt yang kita tampilkan kita lengkapi dengan sebuah gambar atau video atau animasi dimana nantinya dapat merangsang pikiran anak yang lambat belajar dengan cara mengingat sesuatu misalnya dari video yang ditayangkan secara nyata. bisa jadi pembelajaran yang dilakukan dengan menampilkan video akan membuat anak yang lambat belajar menjadi lebih berkembang dari sebelumnya.
BalasHapusSaya akan menjawab permasalahan Anda yang ketiga dimana interaksi yang diharapkan ITU seperti respon sisiwa terhadap multimedia tersebut ditandai dengan tanggapan yang muncul maupun pertanyaan. Selain ITU interaksi NY dapat berupa partisipasi siwa dalam multimedia tersebut seperti siswa mencoba menggunakan aplikasi firtual lab yang telah di rancang oleh pengajarnya
BalasHapus